Skip to main content

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA
mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo". 

Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo". 

Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana. 

News room yang menggunakan istilah "lumpur sidoarjo" atau "lumpur lapindo" masing-masing tentu punya motif dan agenda di balik pelabelan lumpur itu. Pemberian istilah dalam media tidak bebas nilai karena news room tidak steril dari ideologi dan kepentingan. Cuma yang menjadi pertanyaan, apakah pengistilahan itu memihak kelompok tertindas atau mereka yang tidak mempunyai akses ke media atau malah condong ke pemilik modal yang dengan kapitalnya dapat berkuasa dan membuat agenda media sendiri sesuai versinya? 

Analisis Wacana Kritis 

Untuk menelisik sejauhmana pemberitaan dan istilah tersebut berpihak kepada kelompok marjinal atau pemegang kapital dan kekuasaan dapat dibedah dengan menggunakan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis/CDA). 

Analisis ini bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks dengan menghubungkannya pada konteks yang terkait dalam suatu situasi. Roger Fowler dkk. dalam buku karya Eriyanto Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, menyebut bahasa sebagai sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi antara orang yang satu atau kelompok yang lain akan berbeda tergantung pada pengalaman sosial, budaya dan politiknya. 

Kosakata atau istilah tidak semata-mata masalah teknis bahasa tetapi sebagai prakatik ideologi tertentu. Karena itu sudah galib suatu peristiwa yang sama dibahasakan dengan bahasa yang berbeda. Bahasa yang berbeda otomatis akan menghasilkan realitas yang berbeda pula di masyarakat. Ini artinya, frasa atau istilah “lumpur sidoarjo” dan “lumpur lapindo” juga tentu saja akan melahirkan tafsir dan realitas berbeda di masyarakat. 

Kosakata dan Strategi Kehumasan 

Lapindo Brantas adalah milik keluarga Bakrie. Begitu juga ANTV dan Lativi, dua media penyiaran ini juga masuk dalam kelompok usaha Bakrie. Bila melihat latarbelakang kepemilikan dua media itu, orang mudah menduga, pelabelan “lumpur sidoarjo” juga sudah pasti sarat dengan motif dan agenda. Sudah pasti agenda yang menguntungkan kelompok usahanya. 

Istilah “lumpur sidoarjo” adalah kosakata yang dipilih dari sebuah strategi kehumasan yang terstruktural dan terencana. Dalam kehumasan yang diutamakan adalah pencitraan atau image. Sejatinya, label “lumpur sidoarjo” bertujuan menghapus rekam jejak kesalahn PT Lapindo yang kemudian kesalahan itu digiring menjadi masalah dan tanggung jawab Pemda Kabupaten Sidoarjo. Dan penggiringan ini sedikit banyak telah berhasil dengan membuat pemda sibuk harus merelokasi warganya. 

Belakangan lumpur pun bukan lagi menjadi masalah lokal tetapi juga menjadi konsumsi nasional hingga terbentuknya Tim Penanganan Lumpur Nasional. Sebaliknya, media yang menggunakan label “lumpur lapindo” ingin menunjukkan bahwa dalam kasus lumpur panas tersebut yang bersalah dan harus bertanggung jawab sepenuhnya adalah PT Lapindo Brantas. Media kelompok ini secara substansi lebih memihak kepada kepentingan umum dan rakyat yang tertindas. 

Yang cukup unik adalah Metro TV. Media ini termasuk yang paling gamang dalam memberikan pelabelan kepada lumpur panas tersebut. Di awal-awal, media milik Surya Paloh ini menyebut lumpur panas itu adalah “lumpur porong” namun beberapa bulan kemudian menggunakan istilah “lumpur lapindo”. 

Kegamangan itu sepertinya cukup ruwet. Ketika anchor berbusa-busa menyebut “lumpur porong” tetapi di sisi lain pada teks berjalan dan titel berita tertulis “lumpur lapindo”. Keruwetan ini menunjukkan di news room Metro TV terjadi tarik menarik kepentingan. Atau bila ada ideologi tertentu, sosialisasi ideologi tidak sampai atau mungkin malah terjadi “pembangkangan”. 

Tetapi, orang bisa saja mengaitkannya dengan kepentingan politik dan perkoncoan. Misalnya saja Surya Paloh dan Aburizal Bakrie adalah sama-sama kader Partai Golkar. Tetapi bisa jadi orang melihatnya karena kecenderungan Metro TV yang dinilai sebagian pengamat media lebih “propemerintah”. Kesan-kesan dan kecurigaan yang timbul itu sah-sah saja dalam konteks analisis wacana kritis. 

Kesimpulan 

Kasus lumpur panas juga telah menunjukkan kepada publik bahwa berkelompoknya atau berkongsinya media, baik media cetak atau media penyiaran dalam satu pemegang kapital sangat mengkhawatirkan. Selain berita menjadi seragam yang paling parah produk berita diolah menjadi produk kehumasan yang lebih mementingkan citra daripada substansi. 

Tragisnya, bila pemberitaan itu sengaja digiring untuk membohongi publik! Selain media kelompok Bakrie (ANTV dan Lativi) ada juga kelompok MNC (RCTI, TPI, Global TV, Trijaya FM serta media cetak dan majalah). Kelompok media yang paling anyar adalah Trans TV dan TV7. Suatu saat bisa saja kelompok media ini juga seperti media kelompok Bakrie, bila salah satu perusahaan pemilik modal, direksi atau kroninya bermasalah.

Jakarta, 30 Oktober 2006

Comments

  1. Kang Yat, aku yang anak humas marah nih. walopun yang banyak terjadi di lapangan bener juga seperti yang digambarkan di tulisan ini.

    humas itu alat. the gun. the machine behind the man. seperti juga media. jadi bebas nilai. gimana orangnya/pengelolanya.

    aku sendiri memandang orientasi humas bukan image. orientasi humas adalah niat baik yang tersampaikan. kerja humas juga harus pake hati nurani, seperti orang-orang media.

    tapi, tentu saja aku bicara etis. kalau kebetulan banyak orang humas berpihak ke kapitalis, pembelaan standar aku sih karena humas merasa hidupnya langsung bergantung sama kapitalis. jadi, secara teori lebih sulit untuk berpihak pada kebenaran buat seorang humas, ketimbang orang media. tapi, kalo punya iman, kalo spiritual quotientnya tinggi pasti berpihak pada kebenaran.

    tapi (lagi) aku mah gak bisa ngomong banyak. gak pernah jadi orang humas sih. jadi pendapatnya kampring, gak berwibawa.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih atas tanggapannya Zak. Sebenarnya tulisanku ini agak emosional. Namun, humas yang aku lihat sekarang sudah bergeser seperti laiknya pengacara. Lihat saja banyak pengacara yang seharusnya memberikan bantuan hukum malah memberikan jalan untuk berbohong atau malah bikin alibi. Humas yang aku lihat tanggung jawab sosialnya tidak ada. Perusahaan mencemari lingkungan tidak diakui malah mengundang wartawan untuk "membuat berita baik".

    Oke Zak aku tunggu tanggapannya. Mohon maaf lahir dan batin!

    ReplyDelete
  3. Anonymous6:11 PM

    Soal istilah "lumpur lapindo vs lumpur sidoarjo" pernah muncul di milis iPerhumas. ada beberapa anggota milis yang memang tiba-tiba pake istilah lumpur sidoarjo saat membahas bagaimana sebaiknya humas lapindo bertindak. untunglah ada seorang anggota, kalau tidak salah Ridwan Nyak Baik, Kepala Humas Pertamina, yang mengingatkan kalo penggunaan "lumpur sidoarjo" adalah propaganda berkiblat pemilik modal. dia ngajak semua anggota tetap dengan istilah lumpur lapindo.

    Di antara turunan disiplin ilmu komunikasi, kayaknya PR yang terbelakang (dibanding jurnalistik dan periklanan). Jujur saja, di kampus saya dulu saja, yang seharusnya nilai-nilai ideal ditanamkan, jarang membicarakan tanggung jawab sosial PR. Kami sibuk mengulik bagaimana caranya menyampaikan berita buruk diterima dengan baik oleh masyarakat.

    Kalau saya mengatakan bahwa ikhlas dan jujur adalah elemen penting dalam berkomunikasi di forum orang-orang PR, hampir pasti banyak yang tertawa. Di periklanan juga demikian. Banyak yang tidak percaya kalau ikhlas dan jujur bisa diterapkan. Saya sendiri masih percaya kedua elemen itu justru prinsip utama dalam berkomunikasi.

    Kalau bicara kebenaran, tentu mereka akan bertanya; "kebenaran versi siapa?" di sinilah masalah yang selalu diributkan oleh PR yang sering beroposisi dengan media. Kalau sudah begini memang susah memperdebatkannya. Itulah sebabnya moral seharusnya menjadi pelajaran utama di kampus. Jadi ketika nantinya berhadapan dengan pertanyaan tadi, dia akan menjawab "ya kebenaran versi hati nurani." Bukan versi kapitalis. dengan demikian bukan pula versi (keinginan/ekspektasi) publik.

    Tapi, publik sepertinya sudah (lama) antipati dengan PR dan periklanan. Keduanya dianggap perpanjangan tangan kapitalis. Dinding kosmetik para pengusaha. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Tidak menyalahkan kelompok jurnalis yang senantiasa senang memberitakan kisah buruk para kapitalis. Tapi karena praktisi (PR dan periklanan) sendiri yang mencederai kredibilitas profesinya. jadi, jangan heran kalau profesi PR nasibnya gak berbeda dengan pengacara. Keduanya dibutuhkan para pemilik modal tapi dibenci masyarakat.

    sementara jurnalistik diuntungkan dengan posisinya "agak" di luar sistem kapitalis. Ya, kalau kebetulan pemilik media punya hati nurani dan bukan bagian dari konglomerasi individu atau kelompok tertentu, beruntunglah para jurnalis di dalamnya. kesempatan untuk berpihak kepada kaum yang tertidas lebih terbuka.

    Bandingkan dengan periklanan. Sepanjang yang saya perhatikan, ada sejumlah orang iklan yang berusaha mendidik para pengusaha bagaimana sebaiknya bersikap terhadap publik. These are noble people i can tell. jadi, orang iklan setelah memiliki niat baik, tak bisa langsung berbicara kebenaran. kita terlebih dulu harus meyakinkan bahwa bisnis yang etislah yang justru menguntungkan. kalo orang jurnal mah bisa langsung koar-koar di media (meski dengan berbagai risiko). karena orang iklan ataupun PR berbicara atas nama para pengusaha. kalau kita bicara yang bener, tapi gak disetujui para pengusaha, ya gak bakal dimuat di press release atau space iklan.

    jadinya saya kepanjang ngomong di sini. mendingan ketemuan aja, terus bikin tulisan baru. hehehehehhe.

    --masih zaky--

    ReplyDelete
  4. Anonymous8:19 AM

    sejauh yang saya kenal, yayat ga emosional kalo lagi liat miyabi aja deh... hehehe... :)

    ReplyDelete
  5. Coy bisa aja. Tapi emang masalah kapital ini mau gak mau bisa membuat jurnalis tak bisa berkutik kecuali menggerutu setelah itu besoknya tinggal apalagi ya yang akan digerutuin.

    ReplyDelete
  6. Anonymous7:21 PM

    Tulisan yang bagus. Saya juga mencoba mengamati bahasa media massa juga Kang Yayat, mungkin tertarik :)

    ReplyDelete
  7. Anonymous3:33 PM

    I'm Sandra,
    from Sri Lanka,
    and I'm 15 y.o

    Hi, Everybody
    I've studied English sinse this Summer .
    It's so hard Language!
    I want like to meet boys and girls and practisice My English with them.

    Kiss!!

    ReplyDelete
  8. Anonymous10:05 PM

    Safe, Low Priced MEN'S HEALTH Online!

    Very Cheap Viagra, Lipitor, Levitra, Cialis, Propecia!

    Buy Cheap Viagra Online

    The Lowest Prices Online
    Complete PRIVACY
    Free Prescription with your Order
    FedEx Overnight Shipping



    Buy Viagra Online
    Buy Levitra Online
    Buy Online Propecia
    Buy Lipitor Online
    Buy Online Viagra
    Buy Cialis Online



    ______

    buy cheap online viagra viagra
    buy online uk viagra
    Buy Cialis Generic Online
    1 Buy Cialis Generic Online
    buy viagra now online
    buy cheapest online place viagra
    Buy Cialis Online Stats

    ReplyDelete
  9. Anonymous7:51 AM

    He said: "The lender in this case has not done anything which is unusual, it is standard practice in business and commerce."
    The case continues.
    --------------




    ReplyDelete
  10. Anonymous3:39 AM

    "I think there's a very great danger for anything that is heavily advertised and promoted that will lead people towards a conclusion which is unsuitable for them."
    FIRSTPLUS told the BBC the company has never repossessed a home: "We hope that Carol gives people the feeling that FIRSTPLUS can help restructure debts quickly, simply and responsibly.
    --------------






    Ballpoint Book Guest Pen
    Employment Gabon Lawyer
    Air Conditioning Install
    National Car Parks
    In Home Child Care
    Accidents
    Affiliated
    Affiliate Program Salrs
    Orange County Pediatric Dentist
    Ethical Lawyer
    Calculating Loan Payment
    Host Carpet Cleaning Supply
    Attorney Bankruptcy Diego San
    Massachusetts Cosmetic Dentistry
    Oj Simpson Defense Attorney
    Fake Replica Watch

    ReplyDelete

Post a Comment

Anda Berkomentar Maka Saya Ada

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...