Skip to main content

Berahi Ibu Dewan


KACA
kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup.

Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang.

Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama.

Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya.

Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tubuhnya yang seperti Kate  Winslet dalam film The Reader.

Seorang anak muda 22 tahun yang juga telanjang dan berkeringat sudah 15 menit yang lalu meninggalkannya. Anak muda yang lebih pantas sebagai putra sulungnya.

Tapi justru anak muda yang sedikit kurus, jangkung dan tak memiliki potongan tubuh atletis telah membuat hormon oksitosin Ibu Dewan melonjak.

Keruwetan rapat anggaran yang bertele-tele di Gedung Dewan sebelumnya terlupakan. Ruang pikiran dan ingatan seperti baru lagi. Lupa punya suami yang selalu mengintip celah proyek pemerintah. Atau mungkin suaminya juga sudah lupa punya istri yang masih cantik karena kini mantan jurnalis senior itu berkat lobi Ibu Dewan kepada ketua partai mendapat jabatan komisaris di perusahaan negara medioker. 

Samakin sibuk walaupun nggak jelas kerjanya. Mantan redaktur hiburan ditunjuk jadi komisaris perusahaan konstruksi. Jelas nggak nyambung.

Rapat tadi pagi itu sebenarnya tidak perlu. Tapi formalitas nomenklatur memaksakan rapat harus ada agar semua dana rapat keluar dan ada alasan untuk dicairkan.

Sebenarnya kalau mau jujur, segala rapat itu tak penting-penting amat. Karena semua ujung-ujungnya kompromi. Anggota Dewan dapat apa dan Eksekutif dapat apa.

Hati kecil Ibu Dewan berontak dengan cara kerja  para wakil rakyat yang juga banyak koleganya tidak mewakili rakyatnya. Apalagi kalau ada anggota Dewan yang pongah bahkan jarang turun ke daerah pemilihan. Anggota Dewan lebih banyak berkeliaran di Ibu Kota atau kunjungan kerja ke luar negeri sambil jalan-jalan daripada menemui konstituennya menghindari todongan permintaan sumbangan dana jalan rusak sampai proposal rehab balai desa.

Sudah hampir enam bulan Ibu Dewan mengenal anak muda yang dinilainya cerdas dan menyenangkan. Anak muda asal daerah yang dikenalnya ketika Ibu Dewan menjadi pembicara publik di kampusnya. Acara berdalih Sosialisasi Empat Pilar. Ketika itu anak muda tersebut mengkritik anggota Dewan yang terlalu banyak membuat undang-undang tapi nirmanfaat.

Sebagai bentuk keterbukaan Ibu Dewan atas saran dan kritik publik, usai diskusi nomor hape dibagikan kepada sekira 100 audiens. Selang sepekan hanya ada satu mahasiswa yang menghubunginya dan mengajaknya diskusi lewat WhatsApp belakangan lewat zoom. Cuma berdua. Setelah itu hampir sebulan sekali anak muda itu ke Jakarta. Pamit ke teman-teman asramanya untuk cari inspirasi bahan tulisan.

Ibu Dewan selalu merasa tertantang ketika ada anak muda yang berani mendebatnya. Ibu Dewan sudah benci dengan suaminya yang hanya tukang minta proyek tanpa usaha sendiri. Karena itu Ibu Dewan melobi ketua partainya untuk mengusahakan jabatan suaminya menjadi komisaris.

Usahanya berhasil, tentu tidak gratis. Ibu Dewan yang sudah lama diajak tidur oleh ketua partai dan selalu ada alasan untuk menolaknya, justru berinisisitif mengajak.

Sang ketua partai tentu awalnya terkejut hampir tak percaya. Hampir sepuluh ajakannya dari mulai yang berseloroh dan juga yang vulgar ditolaknya.

Ibu Dewan tidak hanya bisa mengantarkan suaminya jadi komisaris tetapi juga dapat mempromosikan dirinya hingga mendapat jabatan sebagai sekretaris fraksi.

Tidur dengan ketua partai dan suaminya sama-sama menyedihkan. Mereka cuma punya nafsu dengan perempuan lain tapi letoy di ranjang. Jangan disebut menitnya, aib. Mungkin dampak terlalu banyak konsumsi gula ketika zaman jadi aktivis kere sehingga numpuk menjadi diabetes ketika sudah berumur.

Ketika bertemu anak muda, Ibu Dewan yang akan genap 48 tahun bulan depan, serasa muda kembali. Hatinya berbuncah, berbunga dan tentu semakin bergairah.

Tidak hanya sekadar hubungan badan terlarang tetapi Ibu Dewan juga banyak mendengar tentang dunia sastra, puisi novel  terbaru juga buku kumpulan cerpen yang tengah banyak dibicarakan kritikus sastra.

Sebelum pulang untuk mengejar jadwal bus di terminal yang akan membawanya ke Yogyakarta, anak muda itu sempat membacakan cerpen panjang "Charlie Parker  Plays Bossa Nova" dari sebuah kumpulan cerpen karya penulis Jepang Haruki Murakami.

Ibu Dewan sambil tidur di bahu kanan anak muda itu menyimaknya. Nyaris tanpa bergerak. Hanya bunyi tegukan air yang terdengar sempurna. Selebihnya diam. Dalam batinnya Ibu Dewan kagum dengan teknik story telling anak muda itu.

Semua itu tidak didapatkan dari suaminya. Ketika bertemu yang dibicarakan tak jauh dari proyek yang mangkrak, uang, kredit ke bank dan rekanan yang belum setor duit. Sangat membosankan.

Ibu Dewan sudah menawarkan untuk membelikan tiket pesawat dan sudah mengontak sekretarisnya tadi pagi. Namun anak muda itu menolaknya. Bahkan anak muda jurusan sastra Inggris itu juga menolak uang pemberian dalam amplop putih berlogo Gedung Dewan.

Di dalamnya ada dua gepok duit 50 ribuan yang masih disegel bertuliskan sebuah cabang bank di Makassar.

"Ini bukan uang jasa. Terimalah. Nggak ada uang jasa. Kenapa sudah empat kali kamu selalu menolak," desak Ibu Dewan.

"Enggak. Saya masih punya  ongkos dan makan di restoran untuk sampai ke Jogja. Cukup," balasnya.

"Ini uang pemberian seorang ibu durhaka kepada anaknya yang nakal," ujarnya berseloroh sambil mencomot handuk putih di meja.

"Saya sangat menikmatinya. Saya merasa senang. Kita bisa ngobrol bareng. Tidak ada paksaan. Kenapa saya harus menerim uang," katanya sambil mengingat tali sepatu converse-nya.

"Simpan aja Tante." Tangannya menghindar ketika Ibu Dewan mencoba meraih kepalan tangannya. Karena terlalu memaksa, handuk putih pun jatuh dari lilitan pinggangnya, jatuh ke lantai.

Keduanya saling bersitatap dan tertawa lepas berdua.

"Oke...oke....oke...." Ibu Dewan menyerah menghadapi prinsip anak muda. Sementara di kantornya justru menumpuk beragam proposal dari organisasi mahasiswa yang mengajukan permohonan untuk kegiatan organisasi ada juga yang pribadi karena kesulitan biaya kuliah.

"Bulan depan saya ke Jakarta lagi," kata anak muda itu sebelum pamitan.

"Saya akan baca cerita lain lagi. Semoga menarik. Cerita karya saya bukan cerita orang lain."

"Kenapa harus satu bulan lagi. Bisa nggak dua Minggu lagi." Ibu Dewan yang selalu keras kepada lawan bicaranya dan dikenal killer kepada mitra kerjanya dari pemerintah, justru merengek, merajuk kepada anak muda.

"Satu bulan biar rindu."

"Oke, janji ya."

"Oke, Ibu nakal."

"Oke... anak nakal."

Kedua mahluk beda umur yang masih menyisakan ruang berahi, hampir saja mengulang dan menambah dosa baru. Anak muda bisa mengendalikannya dan segera lari ke arah pintu kemudian berbalik sambil melempar kecupan angin.

Ibu Dewan masgul. Hujan masih mengguyur Jakarta. Ibu Dewan masih malas-malasan di ranjang itu. Ibu Dewan yakin suaminya juga tengah berselingkuh dengan perempuan lain, entah dengan Momo, Putri Duyung, Senja di Paris atau Geliat Nada. Semua di daftar kontak hape suaminya itu adalah nama alias, samaran, palsu.

"Sundal!" teriaknya.

"Bajingan!" 

Umpatan terakhir ini didedikasikan untuk suaminya.


                                         Depok, 15 Maret 2023

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...