Skip to main content

Posts

Showing posts with the label biografi

Happy Salma, hijrah dari Cibadak

MASIH imut-imut. Usianya ketika itu memang masih 15 tahun. Keinginannya untuk populer mendorong gadis ting-ting dari Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, ini nekat mendafar dalam ajang pemilihan kover Majalah Gadis. Bila mengenang masa itu, Happy Salma mengaku selalu tersenyum sendiri. Menggelikan. Tapi sangat rindu untuk mengingatnya. "Saya ingin tenar dan juga tergiur oleh hadiahnya yang saat itu untuk ukuran anak SMP lumayan besar," kenang pemeran "Nyai Ontosoroh" dan monolog "Ronggeng Dukuh Paruk". Happy dan ribuan gadis lainnya dari seluruh Indonesia yang lolos tahap pertama dipanggil ke Jakarta. Dalam proses karantina kemudian Happy diminta panitia untuk menulis pengalaman pribadi dalam satu halaman kertas kuarto. Tapi rupanya Happy keasyikan dan menulis sampai tiga halaman. "Isinya bukan hanya pengalaman tetapi sekalian juga curhat kepada panitia," kata Happy seperti dikutip Majalah Biografi. Hasilnya tidak mengecewakan, Happy masuk ...

Aku Kirim Putriku ke STSI Bandung (3)

ROBOHNYA tembok pemisah Jerman Barat dan Jerman Timur pada 1989 yang menjadi lambang kedigdayaan komunisme dunia menjadi babak lain kisah Supardi. Uni Soviet dan Eropa Timur bergolak. Mei 1990 Supardi memutuskan bersama keluarganya meninggalkan Negeri Beruang Merah itu menuju Belanda sebagai pelarian politik. Tetapi keputusan hijrah ke Belanda itu tidak ada kaitannya samasekali dengan pergolakan di negara-negara sosialis itu. Sebab utama dari keinginan pindah ke Belanda, karena setelah kurang lebih sewindu tidak ada jawaban positif dari Jakarta atas permohonannya untuk kembali ke Tanah Air lewat KBRI Moskow. Dan sekaitan ini Supardi berkesimpulan adalah ilusi kembali ke tanah air lewat KBRI Moskow di zaman Orba. Namun, setelah setahun berada di Negeri Kincir Angin, pemerintah Belanda menolak memberikan suaka kepada Supardi sekeluarga dengan alasan bahwa mereka tidak memenuhi syarat untuk diberikan perlindungan politik di Belanda. Dan mungkin juga karena dia bukan orang komunis y...

"Saya Tak Mengkultuskan Bung Karno" (2)

SUATU hari penulis mendapat email dari Pak Supardi, tak terlalu panjang tetapi sangat berkesan terutama tentang penegasan ideologi yang dianutnya. Apalagi selama ini penulis mendapat kesan, eksil yang berdiaspora di Belanda, Prancis, Eropa Timur, Kuba atau negara lainnya kerap berpandangan sinis dan provokatif apalagi bila menyangkut Orde Baru. "Saya senang sekali membaca dua atikel kritis Anda yang dimuat Pikiran Rakyat Bandung. Saya juga senang membaca tulisan-tulisan di blog Anda," kata Supardi dalam email pembukanya. "Umur Anda setahun lebih muda dari anak sulung saya. Kita sama-sama berbintang Aries. Saya lahir tanggal 26 Maret, 66 tahun yang lalu. Saya kakek dari dua orang cucu, he...he..he...," tuturnya dalam bagian tulisan lain. Supardi adalah semangat dan Supardi adalah tulisan. Korespondensi yang penulis lakukan sejak setahun lalu lewat surat elektronik menangkap kesan, Supardi berjiwa multikultur dengan nasionalisme terjaga. "Terus terang, se...

Horeee... Aku Jadi WNI Lagi (1)

UU/12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia menjadi sebuah berkah bagi sejumlah eksil yang terpaksa berdiaspora selama 32 tahun Orde Baru berkuasa. Kisah mereka untuk mendapat pengakuan ke-WNI-an sangat mengharu biru. Di antara mereka harus berhijrah dari negara satu ke negara lain dan bahkan sempat menjadi manusia tanpa kewarganegaraan ( stateless ). Di antara eksil itu adalah Ki Sunda A. Supardi Adiwidjaya, doktor sejarah yang harus berkelana dari Uni Soviet (Federasi Rusia) hingga ke Belanda. Berikut kisahnya seperti dituturkan kepada penulis lepas, Yayat R. Cipasang yang dibuat dalam tiga tulisan. *** "Selamat siang, bisa bicara dengan Pak Supardi?" suara telefon di seberang sana menyapa ramah. "Ya, saya sendiri.... Ini, Pak Rudhy, ya? " jawab Supardi dengan nada gembira. Suara Rudhy Chaidir, Atase Imigrasi KBRI Den Haag, dikenalnya dengan baik, walaupun lewat telefon. Maklumlah, hubungan Supardi dengan Rudhy seperti juga dengan kebanyakan diplomat R...