Skip to main content

"Saya Tak Mengkultuskan Bung Karno" (2)

SUATU hari penulis mendapat email dari Pak Supardi, tak terlalu panjang tetapi sangat berkesan terutama tentang penegasan ideologi yang dianutnya. Apalagi selama ini penulis mendapat kesan, eksil yang berdiaspora di Belanda, Prancis, Eropa Timur, Kuba atau negara lainnya kerap berpandangan sinis dan provokatif apalagi bila menyangkut Orde Baru.

"Saya senang sekali membaca dua atikel kritis Anda yang dimuat Pikiran Rakyat Bandung. Saya juga senang membaca tulisan-tulisan di blog Anda," kata Supardi dalam email pembukanya.

"Umur Anda setahun lebih muda dari anak sulung saya. Kita sama-sama berbintang Aries. Saya lahir tanggal 26 Maret, 66 tahun yang lalu. Saya kakek dari dua orang cucu, he...he..he...," tuturnya dalam bagian tulisan lain.

Supardi adalah semangat dan Supardi adalah tulisan. Korespondensi yang penulis lakukan sejak setahun lalu lewat surat elektronik menangkap kesan, Supardi berjiwa multikultur dengan nasionalisme terjaga.

"Terus terang, secara ideologis, pandangan saya berlainan dengan Pak Umar Said (eksil di Prancis-Red). Tetapi banyak tulisan kritis dari Pak Umar Said yang perlu dipelajari," ujar peraih master ekonomi perencanaan ini.

Supardi mengaku, secara pribadi adalah "pengikut Bung Karno", tetapi tidak pernah mengkultuskan Sukarno. "Membaca tulisan-tulisan Bung Karno, ambillah apinya, jangan abunya," sarannya. "Artinya kita perlu tahu mengenai tulisan atau pidato Bung Karno dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat itu dengan kekinian," tambahnya.

Doktor sejarah ini mengaku mulai mengagumi Bung Karno ketika duduk di SMP Negeri III di Manggarai, Jakarta Selatan dan kemudian di SMA IV/C Jalan Batu, Gambir, Jakarta Pusat.

Setiap tanggal 17 Agustus para pelajar di Jakarta selalu ikut upacara (aubade) di depan Istana Merdeka. Bung Karno kerap mengucapkan pidato wejangannya di depan anak-anak sekolah. Apa yang dikatakan Bung Karno ketika itu, Supardi tak satu pun dapat mengingatnya.

"Terus terang saya nggak pernah ingat," ujarnya. "Tapi saya punya rasa simpati kepada Bung Karno bahwa dia itu adalah Presiden Indonesia," tambahnya.

Supardi kecil dan ceking ke mana-mana selalu membawa rantai sepeda seperti jagoan. "Gini-gini waktu kecil dulu pernah ikut-ikutan cross boys, he...he...he...," candanya.

Tahun 1961-1962, Supardi gagal masuk Akademi Militer Nasional (AMN) lantaran psikotesnya tak lulus. Gagal masuk AMN, Supardi diterima di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat di Universitas Indonesia. Dan pada saat itu pemerintah Bung Karno sedang gencar-gencarnya berusaha untuk membebaskan Irian Barat, yang masih dikungkungi kolonialis Belanda.

Di Jakarta, para mahasiswa ketika itu dilatih ketentaraan dalam resimen yang disebut Resimen Mahajaya. Sekaitan ini timbullah cita-citanya untuk berangkat ke Irian Barat jadi sukarelawan. Tekadnya saat itu membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda.

Namun, nasib bercerita lain. Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) mengirimkan Supardi untuk belajar di luar negeri bersama (waktu itu mungkin) seribuan Mahid lainnya.

"Saya dikirim ke Uni Soviet padahal saat mendaftar saya memilih sekolah ke Jerman Timur," kata penulis disertasi berjudul "Persatuan Kaum Progresif Indonesia- Syarat Penting (untuk) Pencapaian Demokrasi dan Kemerdekaan Penuh (1959-1965)" ini.

Saat pecah peristiwa 30 September 1965 di Jakarta, Supardi masih duduk di tingkat tiga. Dan pada 1967 dia sudah menyelesaikan studi master di Universitas Lumumba, Moskow.

Dari belahan dunia lain, Supardi memantau setiap kejadian di Tanah Air. Kesan yang ditangkap, lawan-lawan politik Bung Karno semakin berusaha sekuat tenaga untuk "menghitam"-kan presiden pertama itu.

Supardi, sejatinya mengutuk apa yang disebut Gerakan 30 September (G30S) 1965. Sebab, Dewan Revolusi yang dibentuk pentolan G30S--dengan pemimpinnya Letkol Untung--itu mendemisioner kabinet Soekarno. Ini, artinya mereka melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

"Tetapi saya juga menentang pembantaian massal terhadap orang-orang yang samasekali tidak tahu menahu tentang G30S tanpa proses pengadilan," ujar Supardi yang pernah bekerja di Institute Oriental Studies Moskow ini.

Dalam email lainnya, Supardi surprise ketika saya mengaku sebagai Sunda pituin asal Ciamis yang punya moto "Manjing Dinamis". "Rupanya lembur Anda itu di Ciamis, ya. Isteri dari Ua saya (almarhum Ageung Angga Kusumah) juga tinggal di Ciamis dan mungkin juga termasuk orang Tasikmalaya," tuturnya.

Supardi juga menyebutkan, paman dari istri Ageung Angga Kusumah itu adalah almarhum Brigjen Wasita Kusuma, salah seorang pendiri Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

"Setiap saya berkunjung ke Tanah Air, saya selalu nginap satu-dua malam di Ciamis di rumah keluarga Ageung Angga Kusumah. Dan sedih sekali menghadapi kenyataan beberapa tahun yang lalu paman Ageung Angga Kusumah telah meninggal dunia," tuturnya.

Supardi dengan berseloroh juga mengaku sebagai "Sunda asli". Ibu keturunan Bogor-Serang sedangkan bapak yang pegawai negeri sipil (PNS) berdarah Jampang Kulon, Sukabumi. Supardi besar di Jakarta bersama bibinya lantaran sudah ditinggal ibunya saat berumur 11 tahun. Sedangkan ayahnya setahun setelah ibunya meninggal dunia, kemudian menikah lagi.

"Ari ayeuna mah, di imah teh (Belanda) sareng pun bojo kalih murangkalih teh basa sapopoe basa Rusia," ujar Supardi seolah ingin menunjukkan eksistensinya sebagai Ki Sunda.***

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...