Skip to main content

Duh, pramugari cantik Garuda menangis...

PENERBANGAN sekira 1 jam 30 menit dari Denpasar, kemarin, sebenarnya biasa saja. Galibnya penerbangan perusahaan pelat merah. Pendaratan yang sangat mulus oleh seorang pilot yang mengedalikan pesawat Airbus, nyaris tanpa goncangan.

Namun beberapa menit menjelang mendarat di Bandara Antarbangsa Soekarnp-Hatta ada yang mengganggu perhatian saya. Saya mendengar perbincangan penuh emosional antara seorang pria paruh baya dengan seorang pramugari cantik yang duduk berhadapan.

Pramugari itu beberapa kali terisak dan tangannya mengepal tisu. Sekira tiga lembar tisu itu terus dibasahi air mata yang mengucur deras. Saking derasnya, air mata itu sampai mengalir ke batang hidungnya yang bangir.

Saya melihat bedak dan maskara itu ikut meleleh. Tapi dengan lembut jari lentik dan tisu lembut itu mengusap wajahnya. Tetap cantik.

Pramugari itu berusaha untuk tersenyum dan mengucapkan terimakasih saat penumpang beringsut turun. Saya mencoba mendekat dan ingin menyapanya, tapi takut dianggap ingin tahu persoalan orang.

Saat turun dari pesawat dan tiba di Terminal Tiga Bandara Soetta, saya mencoba meminta konfirmasi kepada teman seperjalanan yang sebelumnya duduk tak jauh dari sang pramugari berwajah tirus itu.

Jawaban teman-teman tidak ada yang memuaskan saya. Teman memiliki versi yang berbeda karena memang perbincangan itu tidak dapat dikuping dengan jelas. Seolah mereka berdua yang mengerti.

"Yang saya dengar sedikit, bapak itu cerita tentang anaknya yang juga pramugari yang kecelakaan dan kemungkinan pramugari itu ikut bersedih," kata seorang teman.

"Kalau saya amati pramugari itu menangis bukan karena itu, tapi bulu mata palsunya mengganggu sehingga ia kelilipan," teman lain menimpali.

"Saya sih dengarnya pramugari itu di belakang dimarahin atasannya. Mungkin ada yang salah saat dalam penerbangan tadi," pendapat teman saya yang lain.

Sampai saat ini saya penasaran dengan kecantikan dan penyebab pramugari itu menangis. Sepertinya kepenasaranan saya ini cukup disimpan sebagai bagian dari kenangan bersama Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 407....

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...