Skip to main content

Salah Diagnosis (1)

Oleh: Yayat R Cipasang, editor situs myRMnews (Grup Jawa Pos)

DIRAWAT di rumah sakit dari 31 Oktober hingga 11 November di Rumah Sakit Pusat Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, tidak hanya menyisakan kisah yang menjengkelkan dan menyedihkan tetapi juga ada pengalaman lucu yang menggelikan.

Aku divonis menderita efusi pleura massif. Paru-paruku bagian kiri terendam cairan yang diperkirakan mencapai 4 liter. Dari literatur yang aku baca jenis penyakit paru-paru ini bisa terjadi karena tumor, infeksi, bakteri tuberkolosis (TBC) dan banyak lagi.

Pengalaman selama 10 hari di rumah sakit ini aku catat dalam tiga tulisan masing-masing berjudul “Salah Diagnosis”, “2 Liter Cairan Mengalir dari Paru-paruku” dan “Jadi Kelinci Percobaan.”

***

AWALNYA cuma demam setiap petang. Namun, setelah ditidurkan demam pun biasanya hilang. Atau kalau berlanjut beberapa hari aku biasanya ke dokter umum, diberi beberapa jenis obat dan dua hari kemudian sembuh. Badan pun segar seperti sediakala.
Namun, belakangan aku merasakan demam disertai batuk dan sesak nafas. Awalnya aku biarkan saja karena aku yakin beberapa hari kemudian pasti sembuh.

Tapi bukan kesembuhan yang didapat, demam tetap terjadi hampir setiap petang. Bahkan kini penderitaan ditambah dengan batuk kering dan berat badan tiba-tiba melorot.

Tubuh yang tadinya berbobot 50 kilogram anjlok menjadi 46 kilogram.
Aku kembali berobat kepada dokter yang juga spesialis farmakologi. Ia sangat dikenal di Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur.

Dalam pemeriksaan dan konsultasi sekitar 5 menit aku didiagnosis memiliki kelainan jantung. “Detak jantung Anda tidak teratur,” kata sang dokter. “Saya kasih resep obat antidebar dan lima hari lagi ke sini,” pinta sang dokter.

Setelah di rumah aku berharap obat antidebar ini sekaligus dapat menyembuhkan sesak nafas yang terus menyiksa. Ternyata tak ada perbaikan sama sekali.

Baru dua hari sejak konsultasi, aku kembali menyambangi sang dokter. “Dok, sesak nafasnya tak sembuh. Mungkin ada masalah dengan paru-paruku,” kataku.

Dokter kembali menempelkan statoskop di seluruh permukaan dada. Tidak ada yang tersisa. “Anda perlu di-rontgen (foto thorax), periksa darah dan juga jantung. Saya kasih rujukannya. Kalau bisa malam ini sehingga besok bisa diketahui,” kata sang dokter.

Aku menjalani semua rekomendasi yang disarankan dokter. Aku mencoba untuk bersikap tenang kendati aku sempat deg-degan menjalani tes kesehatan karena takut ketahuan penyakit yang bersarang di tubuhku.

Hanya beberapa jam hasil tes sudah dapat dibawa dan esoknya aku serahkan ke dokter. “Paru-paru Anda terendam cairan sebelah kiri. Anda perlu dirawat. Saya sarankan Anda malam ini juga dirawat di RSP Persahabatan,” begitu lancarnya dokter berkata sambil menerawang foto rontgen.

Aku yakin dia sama sekali tidak memperhatikan reaksi wajahku, detak jantungku serta psikologisku. Padahal mendengar “vonis” paru-paruku bermasalah seolah-olah dunia ini bergoyang.

Sejak kecil memang aku antijarum suntik dan takut dengan rumah sakit. Aku traumatis dengan jarum suntik saat disunat. Bius lokal yang ditancapkan sangat sakit luar biasa.

Saat ada imunisasi di sekolah aku lebih memilih dihukum guru, esoknya. Karena aku ketahuan kabur saat guru membariskan murid di depan unit kesehatan sekolah (UKS). Jarum suntik membuat aku trauma sampai sekarang.

Pulang ke rumah serasa limbung. Istriku sudah melihat raut mukaku yang terus menonjolkan tulang pipi. Istriku gampang panik dan kerap malah menambah aku semakin tidak tenang.

“Hasilnya gimana. Tak apa-apa kan. Ya, sudah makanya dari dulu juga aku minta jaga kesehatan. Ceril (anakku) masih 2,5 bulan bapaknya udah penyakitan,” cerocosnya.

Aku tahu, istriku panik bukan karena benci tapi karena ia sangat mencintaiku. Ia sangat khawatir dengan kesehatanku. Istriku sangat tahu bahwa aku adalah tulang punggung keluarga yang harus menyiapkan pendidikan dan asuransi kesehatan yang bagus bagi buah hatiku.

“Kalau bisa kita harus dari sekarang menyiapkan asuransi bagi anak biar nanti kuliah nggak kelabakan,” kata istriku suatu waktu.

Aku masih belum percaya bahwa jalan satu-satunya adalah dirawat di rumah sakit. Dirawat berarti bergabung dengan sekelompok orang sakit karena aku mampunya di kelas tiga. Terakhir, sudah pasti butuh biaya yang tidak sedikit. Apalagi tabunganku masih tipis karena duit tersita pada saat operasi sesar anak pertamaku.

Aku malam-malam bertanya kepada istri dan meminta pendapatnya. “Bagaimana, Ma kalau Papa berkonsultasi dulu ke dokter spesilis paru-paru. Siapa tahu nggak harus dirawat. Syukur-syukur cukup pakai obat,” kataku bergetar.

“Ya, kita coba saja. Mudah-mudahan bisa sembuh pakai obat,” jawab istriku sambil menyusui putri kecilku.

Esoknya dari informasi saudaraku, didapat klinik yang juga tempat praktik dokter paru-paru cukup dikenal di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. “Anda nggak ngomong pun sudah saya bayangkan bagaimana sakit dan sulitnya bernafas,” kata dokter tersebut ramah.

“Jadi saya harus dirawat, Dok?” tanya saya.

“Ya. Tidak ada jalan lain kecuali paru-paru Anda mau hilang satu,” katanya. “Anda adalah pasien kelima saya yang menderita penyakit sejenis.”

“Terserah Anda mau dirawat di mana.”

“Ya, Persahabatan saja, Dok,” kataku pasrah.

Bayanganku menerawang ke RSP Persahabatan di Jalan Persahabatan I Rawamangun, Jakarta Timur. Aku bayangkan bangunan tua, pohon-pohon besar dan lorong yang sepi kalau malam hari.

RSP Persahabatan dibangun pada tahun 1961 oleh insinyur-insinyur Uni Sovyet. Pembangunan rumah sakit ini satu paket dengan Gedung DPR dan, Gelora Bung Karno dan Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia. []


Jakarta, 28/11/2008

Comments

  1. Trus, gimana kelanjutannya, Yat? Sudah sehatkan, sekarang?

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah aku udah sehat tinggal cek kesehatan setiap pekan ke RS Persahabatan. Ya, mudah-mudahan tak ada masalah dan paru-paruku utuh kembali.

    ReplyDelete
  3. jangan-jangan mau jadi dahlan iskan nih nulis pengalaman sakit... miyabi dulu atuh jang!

    -=choy=- http://iea.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Anonymous3:01 PM

    kemaren aq udah ngirim comment, tapi entah belum di approve ato emang g kekirim, yah intinya adekku jg sama sakitnya dan masih mencari-cari pengobatan terbaik, karna vonis TBC tampaknya kurang tepat, ada penyakit lain tapi tidak diketahui para dokter. dan akhirna setelah 1 tahun sakit2an kemaren minggu maria meninggal :)
    berjuang ya pak!!jangan putus makan obat, jangan bosan makan kalo perlu 4 kali sehari..

    ReplyDelete

Post a Comment

Anda Berkomentar Maka Saya Ada

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Jeng Susi

Ilustrasi: Radar Sukabumi DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, janda didefinisikan sebagai wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suami.  Ada banyak jenis janda di antaranya janda berhias , yaitu janda yang belum beranak. Selanjutnya ada janda kembang sebutan untuk janda muda yang cantik dan belum beranak.  Berikutnya dikenal janda muda yaitu janda yang usianya masih relatif muda dan terakhir janda tebal , yaitu janda yang kaya dari sisi materi atau dalam istilah anak muda jaman kiwari disebut janda tajir .  Namun entah istilah apa yang cocok untuk para janda yang tergabung dalam Paguyuban Janda Indonesia (PJI), sebuah organisasi yang baru didirikan enam bulan silam itu. Dan para pengurus PJI memang tidak perduli dengan sebutan atau stempel yang akan diberikan masyarakat.  Buat mereka istilah hanya akan memperpanjang kosa kata di kamus dan hanya akan menjadi permainan wacana pengamat sosial yang mencari popularita...