Skip to main content

Tak sekadar olahraga


OLAHRAGA
bukanlah sebuah mahluk tunggal. Dalam olahraga juga berkelindan urusan politik, ekonomi, industri, teknis dan nontekis, budaya, drama dan juga pencitraan (apalagi menjelang Pileg dan Pilpres 2019). Politik dan olahraga misalnya tak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Politik adalah seni untuk merebut kekuasaan. Tidak ada bedanya dengan kredo olahraga atau olimpiade yang sangat terkenal citius, altius, dan fortius atau tercepat, tertinggi, dan terkuat. Dalam politik juga bila dibedah lebih mendalam mengandung anasir citius, altius dan fortius.

Karena itu ketika para selebritas politik dan aktor bangsa tumplek dalam satu ajang pertandingan olahraga ya sah-sah saja. Apalagi olahraga itu mendulang banyak medali emas. Dan, medali emas itu adalah pencapaian tertinggi dalam olahraga. Karena itu datang ke ajang olahraga yang dipastikan atletnya mendapat penghargaan emas bisa menjadi nilai tambah bagi seseorang yang tengah mengejar kekuasaan.

Tentu kita sangat bangga ketika Presiden Joko Widodo berpelukan dengan seterunya Prabowo Subianto melalui inisiatif atlet pencak silat peraih emas Hanifan Yudani Kusumah yang disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani. 

Momen drama sejenis produksi MD Entertainment, Bollywood atawa drakor (drama korea) itu sejenak meredam permusuhan kelompok netizen yang berseberangan. Begitu juga media arus utama lebih-lebih medium cetak dan televisi mengabadikan momen itu dalam primetime dan juga headline-nya. Sejenak negeri adem. Dan kedua tokoh itu pun langsung dicap dan diberi stempel: Negarawan.

Pertemuan Jokowi dan Prabowo juga sejenak melupkan kekisruhan pertandingan pencaksilat di Padepokan Pencaksilat Taman Mini. Melupakan kebrutalan atlet pencak silat Malaysia yang melakukan vandalisme karena kalah telak dan juga aksi sadis atlet Malaysia lainnya yang menendang atlet pecak silat Singapura hingga mengerang kesakitan.

Pencak silat memang fenomenal. Selain bisa mempersatukan dua kutub politik juga dapat menyuplai emas hingga Kamis (30/8/2018), sudah mencapai 14 emas atau setengahnya dari total emas yang diraih Indonesia. 

Lantaran itu jangan heran sehabis Asian Games 2018 ini banyak atlet pencak silat kayak mendadak karena bakal diganjar untuk setiap emas senilai Rp1,5 miliar.

Dengan emas sebanyak itu sudah bisa dipastikan Indonesia pun bisa dicatat sejarah sebagai negara keempat terbesar dalam ajang Asian Games 2018. Jauh meninggalkan Iran yang sebelumnya menempel Indonesia.

Tapi ngomong-ngomong kok tidak ada Menpora di tengah kegembiraan dan keriuhan pelukan teletubbies tersebut? Seorang teman yang memang bawaannya nyinyir sejak lahir nyelutuk, "Dana bonus emas atlet tekor, Bung. Dia lagi sibuk nyari duit tambahan."

Hmmmm....


Rilis.id, 30 Agustus 2018, 14:37 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...