Politik adalah seni untuk merebut kekuasaan. Tidak ada bedanya dengan kredo olahraga atau olimpiade yang sangat terkenal citius, altius, dan fortius atau tercepat, tertinggi, dan terkuat. Dalam politik juga bila dibedah lebih mendalam mengandung anasir citius, altius dan fortius.
Karena itu ketika para selebritas politik dan aktor bangsa tumplek dalam satu ajang pertandingan olahraga ya sah-sah saja. Apalagi olahraga itu mendulang banyak medali emas. Dan, medali emas itu adalah pencapaian tertinggi dalam olahraga. Karena itu datang ke ajang olahraga yang dipastikan atletnya mendapat penghargaan emas bisa menjadi nilai tambah bagi seseorang yang tengah mengejar kekuasaan.
Tentu kita sangat bangga ketika Presiden Joko Widodo berpelukan dengan seterunya Prabowo Subianto melalui inisiatif atlet pencak silat peraih emas Hanifan Yudani Kusumah yang disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani.
Momen drama sejenis produksi MD Entertainment, Bollywood atawa drakor (drama korea) itu sejenak meredam permusuhan kelompok netizen yang berseberangan. Begitu juga media arus utama lebih-lebih medium cetak dan televisi mengabadikan momen itu dalam primetime dan juga headline-nya. Sejenak negeri adem. Dan kedua tokoh itu pun langsung dicap dan diberi stempel: Negarawan.
Pertemuan Jokowi dan Prabowo juga sejenak melupkan kekisruhan pertandingan pencaksilat di Padepokan Pencaksilat Taman Mini. Melupakan kebrutalan atlet pencak silat Malaysia yang melakukan vandalisme karena kalah telak dan juga aksi sadis atlet Malaysia lainnya yang menendang atlet pecak silat Singapura hingga mengerang kesakitan.
Pencak silat memang fenomenal. Selain bisa mempersatukan dua kutub politik juga dapat menyuplai emas hingga Kamis (30/8/2018), sudah mencapai 14 emas atau setengahnya dari total emas yang diraih Indonesia.
Lantaran itu jangan heran sehabis Asian Games 2018 ini banyak atlet pencak silat kayak mendadak karena bakal diganjar untuk setiap emas senilai Rp1,5 miliar.
Dengan emas sebanyak itu sudah bisa dipastikan Indonesia pun bisa dicatat sejarah sebagai negara keempat terbesar dalam ajang Asian Games 2018. Jauh meninggalkan Iran yang sebelumnya menempel Indonesia.
Tapi ngomong-ngomong kok tidak ada Menpora di tengah kegembiraan dan keriuhan pelukan teletubbies tersebut? Seorang teman yang memang bawaannya nyinyir sejak lahir nyelutuk, "Dana bonus emas atlet tekor, Bung. Dia lagi sibuk nyari duit tambahan."
Hmmmm....
Rilis.id, 30 Agustus 2018, 14:37 WIB

Comments
Post a Comment
Anda Berkomentar Maka Saya Ada