Skip to main content

Politisi, Sontoloyo, Jokowi,...


DALAM Bulan Bahasa ini kita sebenarnya harus mengucap syukur karena Presiden Jokowi telah memperkenalkan kepada publik kosakata atau lema yang selama ini sudah jarang digunakan. Baik itu di masyarakat bawah, sekalipun di kalangan elite bangsa ini. Sontoloyo!

Presiden Jokowi bahkan mungkin dalam Bulan Bahasa ini seharusnya mendapatkan anugerah sebagai pelopor penggunaan bahasa Indonesia yang baik (belum tentu benar) di tengah bangsa ini yang kadung merasa gagah menggunakan bahasa Inggris baik dalam bertutur atau untuk kepentingan bisnis. 

Misalnya, kompleks perumahan di pinggir kali saja menjadi 'riverside'. Persimpangan atau perempatan Cibubur saja disebut Cibubur Junction. Biar lebih keren(?). Lontaran kata 'sontoloyo' seperti penawar dari istilah asing yang merembes hingga di kamar tidur.

Untuk ini Jokowi layak dipuji karena telah mempopulerkan sebuah kata sehingga editor, redaktur, penyelia bahasa dan juga politisi pun terpaksa harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia versi terbaru.

Sama seperti halnya di KBBI, dalam Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko (Gramedia, cetakan ke-3 Desember 2009), kata sontoloyo juga bermakna makian yang memiliki sinonim brengsek atawa konyol.

Jokowi telah memulai penggunaan kata sontoloyo, di ruang publik. Kata itu terasa sangat pasaran dan sangat enak diucapkan. Karena memang fungsinya untuk menghardik dalam bahasa percakapan. Ketika kita berteriak sontoloyo di depan publik interpretasi pun bisa beragam. Walaupun sontoloyo yang dimaksudkan Jokowi diarahkan kepada politisi Senayan yang rese, nyebelin dan kecentilan.

Tetapi apapun tujuan atau motif Jokowi menggunakan kata sontoloyo di depan rakyatnya, pasti sudah dipikirkan dampaknya. Jokowi sebagai figur publik tahu betul ucapannya bakal mewabah (viral) dan tidak hanya didengar oleh orang dewasa yang brengsek tetapi juga didengar anak-anak yang lugu.

Harus diingat Jokowi bukan hanya sebagai presiden dan juga politisi tetapi juga sebagai figur publik. Seharusnya menjadi sosok yang tidak hanya menjadi penutur atau pengguna bahasa yang baik tetapi juga harus benar.

Di mana tempatnya seorang presiden menggunakan bahasa preman dan pasaran dan di mana pula menggunakan bahasa tinggi atau bahasa resmi. Kalau seorang presiden saja tidak bisa membedakan ruang dan waktu dalam berbahasa bagaimana dengan rakyatnya yang saling hujat tiap hari di media sosial.

Presiden sebenarnya termasuk generasi yang dibesarkan TVRI. Mungkin familiar dengan istilah yang dikenalkan oleh munsyi JS Badudu, berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi sudahlah itu sudah lewat, karatan, klasik dan itu milik rezim Orba.

Tentu, hak presiden untuk bertutur apa yang menjadi kegundahan hatinya. Apalagi Presiden Jokowi juga sekaligus sebagai Capres Jokowi. Dua status yang berkelindan yang memiliki konsekuensi berbeda. Status Presiden sebagai milik bangsa sementara status Cawapres hanya milik kelompok dan partai.

Dua status ini tentu akan melahirkan anomali akhir-akhir ini. Lantaran dua perbedaan dalam satu tubuh itu, maka  kita tinggal tunggu saja, lema atau kata apalagi yang akan kembali diperkenalkan Jokowi kepada masyarakat dalam enam bulan ke depan.

Andaikan hasil temuan KNKT misalnya membuktikan manajemen Lion Air bersalah dalam kecelakaan pesawat di perairan Tanjung Karawang atau mungkin permasalahan ada di pabrikan Boeing, akankah Jokowi mengatakan kata sontoloyo, kutukupret, brengsek atau cukup dengan kata prihatin atau mengapresiasi?

Sebentar, jangan-jangan pembaca tulisan ini juga sontoloyo. Ah, dasar sontoloyo!


Rilis.id | 31/10/2018 10.22 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Jeng Susi

Ilustrasi: Radar Sukabumi DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, janda didefinisikan sebagai wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suami.  Ada banyak jenis janda di antaranya janda berhias , yaitu janda yang belum beranak. Selanjutnya ada janda kembang sebutan untuk janda muda yang cantik dan belum beranak.  Berikutnya dikenal janda muda yaitu janda yang usianya masih relatif muda dan terakhir janda tebal , yaitu janda yang kaya dari sisi materi atau dalam istilah anak muda jaman kiwari disebut janda tajir .  Namun entah istilah apa yang cocok untuk para janda yang tergabung dalam Paguyuban Janda Indonesia (PJI), sebuah organisasi yang baru didirikan enam bulan silam itu. Dan para pengurus PJI memang tidak perduli dengan sebutan atau stempel yang akan diberikan masyarakat.  Buat mereka istilah hanya akan memperpanjang kosa kata di kamus dan hanya akan menjadi permainan wacana pengamat sosial yang mencari popularita...