Skip to main content

Kopi Asiang dan Empat Pilar


SUDAH lama saya mendengar Warung Kopi Asiang. Kedai kopi di Jalan Merapi, Pontianak, Kalimantan Barat, ini sudah kakoncara ke seantero Nusantara bahkan mancanegara. Tapi saya belum kesampaian menyesap kopi robusta yang diracik langsung di kota khatulistiwa tersebut.

Karena itu ketika Asiang membuka kedai dadakan dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang melibatkan sekira 500 warga Kalimantan Barat di Kediaman Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang (OSO) di Jalan Karang Asem, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (15/9/2018), membuat saya surprise.

Kehadiran Asiang dalam acara itu memberikan saya kesempatan untuk menyeruput kopi khas Pontianak dalam tiga varian mulai kopi susu, kopi hitam dengan gula dan juga kopi hitam tanpa gula.

Pujian saya, kopi khas tanah gambut itu harum dan nikmat. Nyaris tak ada bedanya dengan kopi khas Jawa dan Sumatra yang banyak terpengaruh hara gunung berapi.

Pantesan orang banyak bicara tentang kopi Asiang. Kopi hitam yang memakai gula rasanya seperti Kopi Liong Bulan. Kopi yang selama ini menemani saya setiap pagi dan sore selama hampir sepuluh tahun tinggal di Kota Depok, Jawa Barat.

Maaf, bagi yang penasaran dengan Kopi Liong Bulan sepertinya harus berkunjung dulu ke Kota Depok dan Kabupaten/Kota Bogor. Karena pemasarannya hanya di sekitar itu. Sampai ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan pun saya tak pernah menemukannya.

Seperti diceritakan oleh teman yang pernah berkunjung ke Pontianak dan menikmati kopi di kedai Asiang, sosok yang menonjol adalah seorang laki-laki paruh baya yang bertato harimau di lengan kanan dan tato perempuan di dada kanan.

Lho, kok tahu. Lha, iyalah. Asiang yang juga generasi kedua pemilik kedai yang sudah berdiri sejak 1958 ini memang sejak lama dikenal tak pernah memakai baju saat melayani pelanggannya.

Alasannya tentu sangat sederhana. Membuat kopi tiap hari juga membuat gerah. Apalagi bumi khatulistiwa yang dilewati garis tegak lurus matahari panasnya sangat menyengat.

Membuat kopi tiap hari dan melayani lebih dari seribu orang membuat peluh Asiang terus mengucur. Apalagi yang awalnya kedai buka dari pukul 04.00 hingga 13.00 WIB kini waktunya lebih panjang dari pukul 03.00 hingga pukul 17.00.

Itulah alasan rasionalnya. Tapi bagi yang suka mistis tentu punya dugaan lain. Tapi itu tak penting dibahas karena memang rasa tak bisa dibohongi.

Kedai Kopi Asiang bukan warung kopi biasa. Bukan kedai kopi hasil getok tular sebagaimana dijelaskan dalam "Contagious, Why Things Catch On" (Social Dynamics Group, 2013). Melebihi itu semua.

Kedai Kopi Asiang adalah wujud kehidupan yang beragam, majemuk dan toleransi. Kopi Asiang adalah bentuk yang sebenarnya dari sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan.

Di tengah kesibukan meracik kopi, Asiang pun sambil menebar senyum menyediakan waktu memenuhi permintaan emak-emak berswafoto. Mereka pun tak hirau dan tidak terganggu dengan bulir-bulir keringat yang mengucur dari dada dan punggungnya yang putih.

Menurut Wandi, generasi ketiga Warung Kopi Asiang yang tak kalah cekatan dalam meracik kopi, tak pernah terbetik untuk membuat cabang di daerah atau tempat lain. Meracik kopi di luar kandang pun, menurut Wandi, baru kali ini.

"Ini karena Ayah teman kecil Pak OSO sejak di Kayong," tutur Wandi.

Saya tidak membayangkan seorang Wandi yang imut dan usia sekira 20 tahunan mengikuti jejak ayahnya bertelanjang dada sambil melayani pelanggannya.

Wajahnya yang imut dan berdada bidang bisa-bisa memecah konsentrasi remaja putri dan emak-emak centil yang tengah mengikuti sosialisasi Empat Pilar.

Sekali lagi, tak terbayang bila emak-emak dan anaknya histeris seperti ketika pemain badminton Jonatan Christie membuka baju dan bertelanjang dada ketika meluapkan emosinya.


Rilis.id, 16 September 2018, 15:05 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...