Skip to main content

Jurnalis Telah Mati!

Foto: Anadolu

WAKIL
Ketua DPR Fahri Hamzah dalam silaturahmi dengan ratusan pentolan komunitas pers Parlemen di Wisma Kopo, Puncak, Jawa Barat, Jumat (23/11/2018), secara terus terang menyatakan ketidakpercayaannya kepada media mainstream (arus utama). 

Sikap Fahri itu mewakili kegundahan masyarakat pada umumnya yang melihat media telah jauh melenceng memanfaatkan agenda setting dan framing newsroom untuk kepentingan sesaat kelompok dan juga partai politiknya untuk lima tahunan.

Menjelang Pilpres 2019 ini, media cetak, daring dan juga televisi yang besar dan berjaringan sangat nampak keberpihakannya kepada pasangan capres dan cawapres tertentu. Ini sangat wajar karena capres petahana memiliki kekuasaan, pengaruh dan suprastruktur yang membuat media besar untuk tetap 'berpihak' pada petahana.

Di sisi lain saya tidak yakin media besar itu berpihak lantaran ideologi. Saya malah lebih yakin motif ekonomi lebih dominan karena media arus utama juga termasuk yang sangat terdampak disrupsi.

Sangat miris misalnya ketika instansi partikelir atau lembaga pemerintah merasa lebih efektif beriklan di media sosial seperti Twitter, Instagram dan juga Facebook atau juga YouTube.

Lebih mirisnya lagi dibandingkan mengundang wartawan untuk sebuah jumpa pers atau kunjungan media ke sebuah objek pariwisata, lembaga pemerintah lebih senang membawa blogger dan vlogger.

Arkian, apalagi yang harus dibanggakan dari para pekerja media besar, bergengsi atau media berjaringan sekalipun. Mulai rontok dan bubarnya jaringan Radar dan terseok-seoknya kelompok Tribun menjadi penanda disrupsi media tengah menggerogoti media.

Begitu juga, apalagi yang bisa disombongkan dengan media televisi yang selama ini telah merajai wacana di negeri ini. Ketika medium televisi menjadi alat propaganda dan pembohongan kepada publik pada intinya mereka tengah menggali kuburnya sendiri.

Apa yang bisa dibanggakan jurnalis sekarang toh mereka kalah segalanya oleh pewawancara 'amatir' alias youtuber hebat semisal Refly Harun, Deddy Corbuzier, Ustad Abdul Somad, Aa Gym hingga mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.*) 

Wawancara mereka yang bernas dan penuh gizi tak kalah dengan wartawan profesional bahkan karya mereka dilihat ribuan hingga jutaan penonton . Malah sejumlah hasil wawancara mereka menjadi rujukan bagi media cetak, daring dan juga televisi.

Televisi begitu angkuh dan sombong memonopoli wacana seolah merasa yang paling benar dan suci. Presenter seolah puas ketika narasumber yang diwawancarai terpojok dan termehek-mehek. Dan kepala pemberitaan pun senang ketika narasumber terlibat cekcok dan baku pukul karena videonya akan viral alias mewabah.

Semua tontonan dan pemberitaan media yang hiperrealias itu sejatinya menjadi ekstase bagi para pekerja, pengelola dan pemilik medianya. Sebaliknya, produk newsroom yang diproduksi mereka tak lebih dari sampah, noise atau mungkin toksin.

Karena itu ketika Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusumo mengeluarkan surat edaran pemboikotan kepada Metro TV adalah sebuah reaksi yang paling masuk akal.

Pemboikotan adalah hak individu atau kelompok ketika merasa dirugikan oleh media. Apalagi Metro TV adalah televisi yang menggunakan frekuensi yang jelas-jelas milik publik. Metro TV cuma ngontrak di ranah milik negara.

Dalam surat tertanggal 22 November 2018, Hashim meminta anasir BPN Prabowo-Sandi dan juga partai pendukung koalisi untuk tidak melayani permintaan menjadi narasumber Metro TV sampai batas waktu tak ditentukan.

Sikap Hashim ini sebagai reaksi yang wajar. Sebagai kelompok yang merasa dirugikan, pemboikotan adalah hukuman ampuh bagi sebuah media. Ini sama saja tidak menonton televisi atau tidak membeli dan berlangganan media cetak tertentu.

Tentu, pengelola media partisan pun tidak bodoh. Mereka sebenarnya tidak mau bunuh diri. Karena itu dukungan kepada kelompok atau pihak tertentu pun harus total agar calon yang didukungnya menang dan lima tahun ke depan dapur newsroom tetap ngepul.

Secara ekonomi mungkin aman namun secara kredibilitas, media tersebut runtuh pelan-pelan. Media semacam itu mungkin hanya tinggal artefak dan para pekerjanya tidak lagi memiliki kebanggaan sebagai jurnalis.

Tapi kita harus percaya, media lain akan tetap tumbuh. Bahkan mungkin lebih besar dan sangat berpengaruh. Harapan Fahri Hamzah agar Kompleks Parlemen menjadi 'Silicon Valley' media, bukan hanya sebuah harapan tetapi bisa menjadi kenyataan. Peradaban media bisa lahir dari Senayan karena Dewan Pers dan juga instrumen pendukung lainnya lahir di DPR.

Fahri juga memuji wartawan DPR yang hampir tiap hari berkutat dengan wacana lewat berbagai macam diskusi dan perdebatan soal masalah bangsa. Itu tidak ditemukan di pressroom institusi lain termasuk di Istana sekalipun.

"Mereka berdebat tentang sebuah isu kendati penampilannya tidak meyakinkan dan tidak pakai jas. Kadang mereka hanya mengenakan sandal," ujarnya.

Naam, dari Pressroom DPR ini semoga lahir bibit dan startup media yang akan membawa perubahan di masa depan. Dan, muncul wartawan yang dapat membangun peradaban yang tidak memikirkan projek dan pesta lima tahunan tetapi sudah berpikir untuk 20 tahun atau sampai 30 tahun ke depan.

Semoga!


Rilis.id | 26/11/2018 22.19 WIB

*) tambahan terbaru dari penulis

Comments

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Jeng Susi

Ilustrasi: Radar Sukabumi DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, janda didefinisikan sebagai wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suami.  Ada banyak jenis janda di antaranya janda berhias , yaitu janda yang belum beranak. Selanjutnya ada janda kembang sebutan untuk janda muda yang cantik dan belum beranak.  Berikutnya dikenal janda muda yaitu janda yang usianya masih relatif muda dan terakhir janda tebal , yaitu janda yang kaya dari sisi materi atau dalam istilah anak muda jaman kiwari disebut janda tajir .  Namun entah istilah apa yang cocok untuk para janda yang tergabung dalam Paguyuban Janda Indonesia (PJI), sebuah organisasi yang baru didirikan enam bulan silam itu. Dan para pengurus PJI memang tidak perduli dengan sebutan atau stempel yang akan diberikan masyarakat.  Buat mereka istilah hanya akan memperpanjang kosa kata di kamus dan hanya akan menjadi permainan wacana pengamat sosial yang mencari popularita...