Skip to main content

Dari emak-emak hingga tempe setipis kartu ATM

SEORANG netizen dalam statusnya menyebut surga tidak berada di telapak kaki emak-emak melainkan surga itu berada di telapak kaki ibu. 

Jelas, status tersebut ditujukan untuk menyindir kelompok pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno. Setarikan napas untuk membela kubu sebelah.

Sebutan atau istilah emak-emak langsung mewabah (viral) mulai dari kalangan emak-emak kelas emperan hingga emak-emak kece yang kerap disebut sosialita.

Mereka tidak tersinggung disebut emak-emak. Padahal selama ini mereka kerap dipanggil tante, mamih, mama atau jeng. Mereka malah sepertinya bangga disebut emak-emak.

Sandi, demikian panggilan calon wapres yang akan mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2019 ini begitu cerdas memilih diksi. Apakah sebutan itu spontan atau melalui  perhitungan yang matang?

Seandainya--seusai diumumkan menjadi cawapres Prabowo--menyebut istilah ibu-ibu mungkin ceritanya akan berbeda.

Bila melihat kamus, lema ibu itu terlalu banyak artinya. Tidak fokus dan maknanya terlalu luas. Sebuah kota saja bisa disebut ibu kota.

Emak berasal dari bahasa Melayu. Bahasa lingua franca. Leluhur bahasa Indonesia. Bahasa persatuan dan bahasa para sastrawan dari zaman prakemerdekaan, setelah kemerdekaan hingga zaman kiwari.

Dalam KBBI Kemendikbud daring disebut Umak, dalam bahasa Sunda menyebutnya Ema dan di warga Minang menyebutnya Amak.

Dari sisi literer atau sastra, istilah Emak maupun Amak atau Ema sangat galib digunakan sastrawan sebagai lambang golongan masyarakat kecil. Masyarakat mayoritas di Indonesia baik di kalangan urban maupun rural.

Karena itu ketika Sandi menyebut istilah emak-emak langsung disambut dan familiar di kalangan masyarakat. Istilah emak-emak tidak lagi menjadi viral tetapi juga telah melompat menjadi gerakan sosial.

Istilah emak-emak tidak lagi terpaku pada istilah dalam kamus tetapi menjadi sebuah perjuangan atau bahkan perlawanan emak-emak atas kondisi bangsa saat ini.

Ketika bangsa lagi bermasalah dan ekonomi terpuruk yang paling merasakan dampaknya adalah eman-emak. Karena dalam sistem keluarga di Indonesia manajemen keuangan keluarga yang mengatur umumnya adalah emak-emak.

Ketika pasokan dana dari suami tersendat atau bahkan suaminya di-PHK maka yang akan pusing emak-emak di rumah. Rancangan anggaran belanja rumah tangga (RABRT) atau ABRT yang sudah disahkan sebelumnya bisa berantakan.

Beberapa isu yang dikemukakan Sandi seperti tempe kini sudah setipis kartu ATM memang pernyataan hiperbola. Tapi dalam komunikasi politik, diksi ini sangat terpilih karena sangat menyentuh, membelalakkan dan tentu saja membuat kelompok pendukung Jokowi segera meng-counter-nya. Artinya pesan yang disampaikan Sandi ke sasaran cukup jitu.

Tapi lucunya, pernyataan Sandi tentang tempe setipis kartu ATM ditanggapi serius kelompok pendukung Jokowi. Misalnya muncul tuduhan Sandi telah melakukan pembohongan publik. 

Sungguh, ini tuduhan berat. Malah ada seorang perempuan aktivis LSM yang pura-pura belanja di tukang sayur sambil memegang segepok tempe sambil memberikan testimoni ukuran tempe masih belum berubah. Alias tidak terpengaruh dolar.

Ada juga seorang perempuan yang memperlihatkan tengah makan tempe di sebuah kedai di sebuah universitas terkenal sambil mengatakan bahwa harga makanan masih tetap seperti sebelum krisis rupiah.

Tujuan Sandi untuk memancing emak-emak bergerak telah berhasil. Sandi pun terkenal atau viral dalam arti positif dan negatif. Sandi sepertinya tidak menghiraukan itu.

Sepertinya Sandi belajar dari dunia infotainmen. Dalam dunia hiburan isu negatif pun dapat dikapitalisasi menjadi keuntungan. Bahkan ada kasus ketika artis atau seorang selebritas telah meredup pun untuk kembali terkenal kadang membuat kontroversi agar menjadi pergunjingan nasional.

Sebagai pemula di panggung politik elite, upaya Sandi membuat kontroversi sudah berhasil. Gerakan emak-emak telah menjadi isu nasional. Sandi pun telah menjadi selebritas politik.

Tentu isu hiperbola ini tidak akan selamanya menjadi andalan Sandi. Tim kampanye memiliki ukuran dan target tertentu. Kapan direm dan kapan dihentikan.

Politik adalah seni untuk merebut kekuasaan. Tempe setipis kartu ATM dan emak-emak adalah bagian dari seni berbahasa dan permainan kata-kata dari politisi terdidik bukan politisi dengan kecerdasan rata-rata atau medioker.

Jangan terlalu serius apalagi mempermasalahkan ukuran tempe. Arkian, Sandi pun tidak mengatakan tempe secara spesifik. Bila pun benar mungkin tempe yang disebut Sandi adalah tempe mendoan yang tipis tapi legit.

Rilis.id, 10 September 2018, 12:52 WIB


Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...