Skip to main content

Cerita Edhy Prabowo dan Kolam Pemancingan

Foto: kkp.go.id

INI cerita lama sebelum Pemilu 2019 yang berdarah-darah berlangsung. Juga mungkin ketika itu Edhy Prabowo masih bermimpi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan yang juga Presidennya Prabowo Subianto.

Toh mimpi itu jadi kenyataan tapi Presidennya Jokowi. Tak masalah.

Saat itu serombongan wartawan mendapat undangan mancing dari Edhy Prabowo yang kala itu masih menjabat sebagai Ketua Komisi VI DPR. Tempat pemancingannya dua kolam besar di sebuah lembah curam di kawasan Tagog Apu, Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat.

Sekilas dari jalan raya hanya tampak posko biasa dengan atribut spanduk yang menggenapinya. Tapi setelah menengok ke dalam dan menuruni lembah terlihat mengampar kolam pemancingan seluas 4.000 meter persegi.

Di seberangnya terlihat rumah kayu yang asri. Di sanalah Edhy Prabowo bersama sang istri, Iis Rosita Dewi, terlihat menebar senyum.

"Kalau lagi suntuk saya bisa seharian mancing di sini," kata Edhy.

Edhy juga kerap memanfaatkan kolam pemancingan untuk kegiatan politik. Apalagi di sana juga terdapat fasilitas untuk melakukan pertemuan secara santai sambil menikmati udara bebas dan bakar ikan sambal pedas.

"Tempat ini lebih banyak digunakan oleh istri bersama teman-temannya," kata kelahiran Tanjung Enim 24 Desember 1971, saat itu.

Pernyataan Edhy tersebut dibenarkan dengan terpasangnya spanduk di rumah kayu yang bertuliskan Posko Teh Iis.

Sang istri yang kelahiran Priangan ini menjabat sebagai Penasihat Perempuan Indonesia Raya (Pira) Jawa Barat. Sebuah organisasi sayap Partai Gerindra.

Jawa Barat, bagi Edhy sangat spesial. Bukan lantaran tempat kelahiran istri tetapi juga karena sebagian hidupnya banyak beraktivitas di Bumi Pasundan.

Selepas dari Kopassus, Edhy banyak tinggal di Batujajar untuk mendalami pencak silat yang mengantarkannya menjadi atlet nasional. Dan hingga kini Edhy tercatat sebagai pengurus Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia.

"Jawa Barat itu kampung istri saya. Mau tidak mau saya terpanggil untuk berkiprah di Jawa Barat," ujar Edhy.

Bercerita tentang istri, Edhy memberikan kebebasan kepadanya untuk berkiprah di mana pun. Sejauh ini sebagai Penasihat Pira pun, Iis sudah sangat sibuk.

Saat itu sempat ditanya apakah istrinya akan mencalonkan diri untuk calon legislatif, Edhy menggeleng.

"Saya belum tahu. Tapi kalau misalnya partai meminta lihat saja nanti," ujarnya.

Kenyataannya sekarang, Teh Iis pun menjelma menjadi seorang politikus Senayan. Teh Iis menjadi wakil rakyat dari Bandung Barat.

Terkait aktivitasnya dalam bidang politik, Edhy menuturkan, istri sangat mendukungnya. Bahkan, sangat mengerti dengan apa yang di perjuangkannya di partai.

"Dia mengerti apa yang saya perjuangkan. Intinya kepercayaan. Istri memberikan kepercayaan kepada apa yang saya tengah perjuangkan," ujar Edhy yang banyak puasa bicara politik ketika berada di rumah.

Sarjana ekonomi lulusan Universitas Moestopo ini juga tidak terlalu ambisius. Apalagi mengejar jabatan tertentu.

Jabatan Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPR yang sempat diembannya kata Edhy itu puna limpahan lantaran Ahmad Muzani menjadi Wakil Ketua MPR.

"Satu-satunya ambisi saya dan terus diperjuangkan adalah memenangkan Pak Prabowo Subianto menjadi presiden pada Pemilu 2019," kata Edhy ketika itu.

Memenangkan Prabowo jelas gagal. Tapi Edhy bersama mentornya berkongsi dengan pemenang Pilpres 2019.

Edhy pun diganjar jabatan menteri tapi sayangnya gaduh dengan memberikan izin ekspor benur lobster, sebuah pantangan ketika Susi Pudjiastuti jadi menteri.

Edhy pun tak mengelak ketika di daftar ekportir tersebut tercatat nama perusahaan milik politikus Gerindra.

Apakah Edhy akan kepleset gara-gara benur? Ah, rasanya tidak.

Kapan kita mancing lagi Pak Edhy?


Haluan.co, 07 Juli 2020 14:55 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Jeng Susi

Ilustrasi: Radar Sukabumi DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, janda didefinisikan sebagai wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suami.  Ada banyak jenis janda di antaranya janda berhias , yaitu janda yang belum beranak. Selanjutnya ada janda kembang sebutan untuk janda muda yang cantik dan belum beranak.  Berikutnya dikenal janda muda yaitu janda yang usianya masih relatif muda dan terakhir janda tebal , yaitu janda yang kaya dari sisi materi atau dalam istilah anak muda jaman kiwari disebut janda tajir .  Namun entah istilah apa yang cocok untuk para janda yang tergabung dalam Paguyuban Janda Indonesia (PJI), sebuah organisasi yang baru didirikan enam bulan silam itu. Dan para pengurus PJI memang tidak perduli dengan sebutan atau stempel yang akan diberikan masyarakat.  Buat mereka istilah hanya akan memperpanjang kosa kata di kamus dan hanya akan menjadi permainan wacana pengamat sosial yang mencari popularita...