Skip to main content

Banser vs Persib


SAYA asli, pituin Sunda. Dari sekolah paling dasar hingga menjadi ketua OSIS di SMA I Rancah, Ciamis, Jawa Barat, tak pernah mengenal Banser dan saya lebih tahu Persib. 

Setidaknya di Rancah ada lima pesantren besar dan salah satunya adalah milik keluarga Kang Dede Rosada, guru besar yang juga rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta. Jelas, pesantren itu adalah lembaga pendidikan milik Nahdlatul Ulama (NU).

Maka ketika mendengar kabar ada Banser di Garut, saya termasuk yang sangat kaget. Ternyata sekarang di Priangan Timur ada Banser juga ya. Selama ini saya hanya mengenal Banser di Jawa Timur atau mungkin di Jawa Tengah.

Lebih kagetnya lagi, ketika sekelompok orang yang berseragam loreng mirip Banser itu membakar bendera yang disebut-sebut lambang milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi terlarang yang sudah dibubarkan Pemerintah.

Terlepas dari benar tidaknya isu yang mewabah (viral) itu, saya sebagai warga Priangan Timur hanya bisa bersedih dan mencoba menuangkan unek-unek saya dengan cara 'mengotori' wall Instagram Gubernur Jawa Barat Pak Ridwan Kamil untuk sekadar curhat.

Saya sebagai warga Priangan Timur dan masyarakatnya yang dikenal toleran terenyak dan terusik dengan aksi tersebut. Apalagi aksi pembakaran itu disaksikan langsung oleh para santri yang tidak mengenal politik. Terlalu sombong ketika orang tua menunjukkan amarah dan kebenciannya di hadapan para santri.

Saya pun mengajak kepada siapa saja di Priangan Timur dan juga di Jawa Barat untuk tidak terpancing dengan aksi apapun. Menurut saya masih ada pintu dialog dan cara penyelesaian untuk mencari kebaikan. Tanpa harus menunjukkan amarah dan murka.

Jangan hanya menjelang Pemilu atau Pilpres kita terpecah dan diadu domba untuk saling menihilkan. Apalah arti Pilpres kalau hanya saling membinasakan. Hanya akan mempermalukan diri diri sendiri. Menunjukkan kebodohan sendiri. 

Sudah cukup warga Jawa Barat terluka, masa harus ditambah lagi. Ketika seorang netizen bernama Deny Siregar menyebut aksi brutal Bobotoh yang menyebabkan tewasnya seorang suporter Persija dituding aksi itu disusupi ISIS, hati saya, kita dan kami terluka. Kami marah. 

Dan sepengetahuan saya sampai hari ini Deny Siregar yang memang pendukung penguasa, belum juga meminta maaf kepada warga Jawa Barat khususnya Bobotoh. Padahal polisi sudah memastikan kalimat tauhid dalam rekaman video dalam 'pembantaian' suporter itu rekayasa alias bohong.

Sebenarnya kami bisa saja mencari, menangkap, mempersekusi, menyeret dan mengadilinya dengan cara kami di lapangan Gasibu atau di pintu gerbang Gedung Sate. Tapi itu bukan tipe kami.

Biarkan waktu dan juga alam yang akan menelan ide-ide dan juga perilaku seorang Deny Siregar (Desi, meminjam sebutan dari Ahmad Dhani). Biarkan cacing atau belatung yang akan menggerogoti setiap inci tubuhnya suatu hari nanti.

Warga Jawa Barat adalah bagian dari negeri ini yang harus tetap waras di tengah chaos ketidakwarasan. Jawa Barat dalam sejarahnya memiliki dua kerajaan besar, Galuh dan Padjadjaran. 

Kita pernah dikhianati dan pernah dinihilkan dalam sejarah dan itu jangan terulang kembali. Kita harus tetap besar tidak hanya jumlah penduduknya tetapi juga ide-ide kita juga harus besar. Ambisi dan berahi politik hanya akan membuat bangsa terjerumus dan menjadi kelompok paria.

Persoalan Pilpres adalah bagian dari kecil hidup bernegara. Tak ada presiden pun kita masih bisa hidup dan mengatur diri sendiri dengan kearifan yang kita punya, warisan leluhur. Kita punya warisan Hindu dan juga Islam yang harmonis di Jawa Barat.

Kita sangat bangga dengan kebudayaan Hindu dan Sunda Wiwitan karena itu kita senang ketika wilayah kita yang bergunung-gunung disebut Parahyangan dari kata para (atas) dan hyang, Dewa atau Tuhan. Tempatnya Tuhan, tempat para Dewa.

Warisan Hindu dan Sunda Wiwitan saja kita hormati kenapa harus alergi dengan kalimat atau tulisan tauhid dan sampai harus membakarnya? Sampai di sini saya sulit berpikir.

Hidup Persib!


Rilis.id | 23/10/2018 14.13 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...