Skip to main content

Asian Games, pesta dan kampanye sebenarnya


TIDAK
ada pesta yang tak berakhir. Apakah itu dipaksa atau memang karena takdir. 

Pun, Asian Games 2018 yang harus tutup layar. Karena ke depan masih ada ajang dan pesta lain semisal Olimpiade Tokyo 2020. Dan bagi atlet waktu dua tahunan bukan sebuah saat yang ideal untuk larut dalam euforia bila ingin mendapatkan medali.

Sama seperti acara pembukaan Asian Games 2018 yang mengundang pujian dan cacian di kalangan netizen, acara penutupan pesta warga Asia itu pun kembali tak luput dari cibiran dan juga komentar miring.
Karena ini di tahun politik sepertinya sah-sah saja terutama petahana untuk mengoptimalkan dan juga mengefektifkan segala acara dan sumber daya untuk kepentingan politiknya.

Ketika Jokowi dalam pembukaan Asian Games menjadi 'bintang iklan' sepeda motor Honda tentu tak ada yang melarang. Begitu juga ketika Jokowi tetap tampil dalam acara penutupan kendati dari tempat nun jauh di sana di lokasi korban gempa bersama-sama warga Lombok.

Galibnya, pembukaan adalah milik Presiden. Sedangkan penutupan adalah saatnya tampil sepenuhnya untuk Wakil Presiden. Sekadar, pembagian peran.

Lho, bukankah yang pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla? Betul, tapi Presiden Jokowi juga tampil dari Lombok bersama warga korban gempa di tenda pengungsian. 

Andai bukan tahun politik mungkin apa yang dilakukan Presiden Jokowi tidak akan melebar kemana-mana. Karena persoalannya kan sederhana tetapi kata Pramoedya Ananta Toer hidup menjadi rumit karena tafsirannya. Jadi sah-sah saja karena di tahun politik begitu banyak tafsiran.

Cuma mungkin ada yang terlewatkan dari tim kampanye dan juga tim kreatif acara Asian Games 2018, kendati ini terlambat. Seandainya Presiden Jokowi tidak berada di barak atau tenda melainkan di sekitar puing-puing gempa mungkin bisa lebih dramatis, humanis dan juga menyentuh. Karena tentu saja warga Asia tidak semuanya bisa menafsirkan Presiden Jokowi berada di mana. Tidak semua warga Asia mengetahui ada gempa di Lombok.

Arkian, dimana pun penguasa adalah sasaran kritik rakyatnya. Bahkan mungkin di tempat lain di negara lain dibenci rakyatnya. Itu risiko kekuasaan. Kalau tidak mau dikritik atau dibenci rakyat, jadilah oposisi.

Pesta telah usai dan Indonesia menuju pesta yang sebenarnya, Pileg dan Pilpres 2019. Energi bangsa ini yang masih tersisa sepertinya akan banyak terkuras pada pesta lima tahunan. Apakah petahana berhasil dua periode atau oposisi yang berjaya?

Sebuah harian nasional menulis headline "Indonesia, Kalian Hebat". Inilah pengakuan warga Asia. Bukan Presiden atau Wakil Presiden yang hebat. 

Bahkan secara khusus Wapres Jusuf Kalla dan juga Ketua Panitia Asian Games 2018 Erick Tohir memuji puluhan ribu relawan yang bekerja siang malam di Jakarta, Palembang dan Jawa Barat.

"Meski terpencil dari hiruk-pikuk di gelanggang, meski tersembunyi dari sorotan dan publikasi media, meski terselip di antara gegap gempitanya rangkaian Asian Games ke-18 ini. Namun sesungguhnya kalianlah yang telah membangun panggung itu. Ketika medali disematkan, sesungguhnya kalianlah yang sedang mengalungkan medali tersebut kepada para juara. Ketika lagu-lagu kebangsaan dikumandangkan, sesungguhnya sebagian penghormatan itu adalah milik kalian.

Tanpa kerja keras kalian siang dan malam, niscaya perhelatan Asian Games ke-18 ini tidak akan sukses hingga resmi ditutup pada malam ini. Kalian telah mewakafkan semua yang terbaik yang kalian miliki untuk bangsa ini."

Subhanallah, pujian tulus dan penghargaan hebat dari seorang pemimpin.

Rilis.id, 03 September 2018, 11:27 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...