Skip to main content

Takut kalah vs takut Tuhan

Foto: Instagram
SANGAT
menarik pernyataan tegas dan lantang cawapres 01 Jokowi saat debat kedua Pilpres 2019 yang menegaskan tidak takut pada siapa pun tetapi hanya takut pada Allah SWT.

Takut pada Tuhan kalau dalam level keislaman mungkin sudah termasuk umat yang sudah dalam level keimanan yang sangat tinggi kendati masih jauh dari seorang sufi.

Tapi sayangnya orang di sekeliling Jokowi sepertinya masih takut kalah (level duniawi). Sementara sang petahana sudah dalam tahap hanya takut kepada Tuhan. Jelas sangat kontras.

Adanya perbedaan 'jenis takut' ini membuat para pendukung, simpatisan, relawan, tim sukses atau mungkin juga sebagian para menteri hingga gubernur, bupati hingga walikota camat serta kades memiliki 'jarak' dengan Jokowi.

Akibatnya, sejumlah relawan dan juga mungkin tim sukses melakukan tindakan di luar akal sehat. Misalnya di sejumlah tempat termasuk di Jakarta beberapa rumah dikirimi paket dan bingkisan sementara Lebaran masih jauh.

Dus, yang menarik lagi gubernur, bupati, camat hingga kades ramai-ramai mendukung capres 01. Bahkan dengan sombongnya deklarasi mereka gelar bukan di pematang sawah melainkan di hotel berbintang.

Mereka cuma deklarasi dan hanya menyatakan dukungan. Mereka tidak bicara tentang ide besar untuk mensejahterakan rakyat. Atau berusaha sekuat tenaga agar tidak ada lagi pengangguran di negeri ini atau minimal turun signifikan menurut istilah absurd-nya.

Deklarasi sebenarnya tidak memiliki makna apa-apa selain hanya bentuk dari unjuk tampil. Karena tidak ada hubungannya deklarasi termasuk mengatasnamakan alumni TK, alumni SD, alumni SMP, alumni SMA hingga alumni Perguruan Tinggi.

Alumni termasuk juga gerombolan gubernur dan bupati/walikota hanyalah klaim, hanyalah nominalisasi dalam teori wacana kritis. 

Masyarakat atau warga yang menjadi bagian dari kekuasaannya sangat merdeka dan tak bisa diatur begitu saja oleh pemimpinnya. Apalagi oleh pemimpin yang tidak netral, zalim, diskriminatif dan tidak sensitif dengan perasaan rakyat.

Hanya omong kosong ketika sebuah partai saat  kadernya menang dalam pilkada kemudian berkata ketua umumnya, "Gubernur Nganu kami wakafkan untuk rakyat!"

Kenyataannya boro-boro diwakafkan yang ada malah menjadi peluru untuk menyakiti rakyat yang memiliki pandangan dan juga pilihan politik berbeda dengan dalih, "Kami juga memiliki hak politik!"

Naam, gubernur juga manusia. Tapi gubernur berbeda dengan manusia kebanyakan. Mereka dalam hidupnya selalu melekat antara manusia biasa dengan manusia istimewa. Istimewa di sini hidup dan kegiatan sehari-harinya didanai duit rakyat.

Di sana bukan tidak mungkin ada pajak dari rakyat yang berbeda pilihan dan politiknya dengan gubernur. Seandainya gubernur, walikota atau bupati sadar itu mungkin tidak mau deklarasi dan dukung-mendukung dengan dalih apapun termasuk menyiasati celah aturan.

Gubernur atau pejabat publik apa pun sudah sepantasnya sadar diri. Tengok rakyat yang tersakiti. Rakyat itu sangat serius kalau berpolitik atau memilih karena mereka ingin berubah dan sejahtera.

Sementara para gubernur dan juga bupati dan walikota mereka berpartai atau ikut pemilu untuk berburu jabatan dan kekuasaan. Dan bila tidak terpilih tinggal loncat partai. Sangat mudah.

Lantaran itu pula bagi mereka (elite) deklarasi itu penting sementara terpilih tidaknya Jokowi, mungkin soal lain....


Times Indonesia, 26 Februari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...