Skip to main content

Anomali Ahmad Dhani


LEMBAGA
Pemasyarakatan (LP) Cipinang adalah penjara nomor wahid di negeri ini. Nomor wahid 
dalam pengamanan maksimum dan level penjahat atau terpidana yang dibui.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sempat mampir ke Cipinang. Namun dengan alasan keamanan mantan gubernur DKI Jakarta itu hanya beberapa jam saja langsung dipindahkan ke tahanan Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Artinya ada kekhawatiran.

Tetapi lain dengan Ahmad Dhani. Sang pemilik Republik Cinta ini seharusnya bercengkrama dengan istri tercinta dan putri lucunya yang masih balita. Tetapi itu tidak dilakukannya.

Ahmad Dhani yang namanya sudah dikukuhkan pengadilan layaknya merek dagang, memilih jalan lain. Jalan terjal, pahit, getir dan bui.

Vonis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan 1,5 tahun dan langsung menyeretnya ke LP Cipinang adalah konsekuensi bagi seorang pemberani. Karena kalau seorang pecundang tentu Ahmad Dhani tidak akan memilih jalan kebangkrutan.

Ahmad Dhani bukan hanya telah mengorbankan gerak-geriknya yang dibatasi dan bahkan mungkin gagal nyaleg dari daerah kelahirannya karena tak bisa berkampanye, tetapi juga membuat kehidupannya morat-marit.

Gara-gara terjun ke politik dan memilih berseberangan dengan penguasa, proyek musiknya hancur berantakan. Kerajaan bisnis musiknya Republik Cinta berantakan tak terurus. Ahmad Dhani juga dipastikan tak bisa menyertai pentolan Dewa 19 untuk konser di Malaysia 2 Februari mendatang.

Yang selalu menjadi bahan pertanyaan, kenapa Ahmad Dhani tidak memilih jalan lain. Jalan tol atau minimal gang yang tidak ada polisi tidurnya.

Bolehlah itu soal pilihan. Tapi kenapa Ahmad Dhani tidak memilih cara seperti Slank atau Adhie MS, Tompi atau musisi lainnya.

Mereka bisa bersua dengan penguasa. Sesekali ke Istana dan dijamu seperti tamu negara. Projek musik terus berjalan bahkan mereka bisa konser dengan megah di Gelora Bung Karno.

Entahlah. Mungkin Ahmad Dhani juga termasuk yang percaya dengan adagium bahwa politik itu seni. Seni untuk menuju kekuasaan bahkan seni untuk merebut kekuasaan.

Penjara atau tahanan sudah teruji dalam sejarah sebagai tempat para pendiri republik dan aktivis politik untuk sampai pada kekuasaan yang dicita-citakannya. Dan sepertinya itu yang dipilih Ahmad Dhani bukan lewat cara mengangguk tetapi memilih menggeleng.

Ahmad Dhani seperti seorang musisi yang ditinggalkan kelompoknya. Teralienasi dari komunitasnya.

Beruntunglah Ahmad Dhani memiliki istri Mulan Jameela. Bukan saja istri yang pandai melantunkan lagu-lagu cinta tetapi juga sangat mengerti politik.

Rupanya gen dari uyut Sekar Maridjan (SM) Kartosoewryo, tokoh pergerakan dalam zaman kemerdekaan, mengalir dalam diri Mulan Jameela. Itulah sepertinya yang membuat Ahmad Dhani menatap pintu Gerbang LP Cipinang dengan senyuman. (*)


Times Indonesia, 29 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Jeng Susi

Ilustrasi: Radar Sukabumi DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, janda didefinisikan sebagai wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suami.  Ada banyak jenis janda di antaranya janda berhias , yaitu janda yang belum beranak. Selanjutnya ada janda kembang sebutan untuk janda muda yang cantik dan belum beranak.  Berikutnya dikenal janda muda yaitu janda yang usianya masih relatif muda dan terakhir janda tebal , yaitu janda yang kaya dari sisi materi atau dalam istilah anak muda jaman kiwari disebut janda tajir .  Namun entah istilah apa yang cocok untuk para janda yang tergabung dalam Paguyuban Janda Indonesia (PJI), sebuah organisasi yang baru didirikan enam bulan silam itu. Dan para pengurus PJI memang tidak perduli dengan sebutan atau stempel yang akan diberikan masyarakat.  Buat mereka istilah hanya akan memperpanjang kosa kata di kamus dan hanya akan menjadi permainan wacana pengamat sosial yang mencari popularita...