Tapi dalam politik, terutama di Indonesia yang syarat dengan anomali, deret hitung itu bisa melahirkan beragam makna dan interpretasi terutama dalam musim kompetisi politik yang tidak sehat seperti sekarang ini.
Ketika Presiden Jokowi mengambil aba-aba jalan sehat di Kendari dengan hitung mundur 5, 4, 3, 1, tidak semata Pak Presiden gagap berhitung matematika dasar tingkat taman kanak-kanak tetapi Pak Presiden tengah bermain-main dengan simbol atawa semiotika yang menjadi kajian di tingkat mahasiswa.
Presiden atau capres petahana atawa capres 01 tidak dalam ajang stand up comedy di televisi partikelir atau melakukan kesalahan berhitung karena lupa tetapi di sana ada unsur 'kesengajaan' untuk menihilkan sementara angka 2 dari dunia popularitas dan elektabilitas.
Angka 2 atau 02 untuk sementara ini--paling tidak sampai 17 April 2019--bisa dikatakan noise, pengganggu, lawan, tukang rese, musuh, hanya mengotori survei, pembuat stres relawan, tukang kritik tanpa solusi, kelompok tak berpengalaman dan kalau bisa minta Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) untuk menenggelamkannya di laut lepas seperti kapal pencuri ikan.
Gara-gara angka dua ini juga membuat sekelompok orang yang sudah establish, berada di lingkaran kekuasan dan berada di zona nyaman merasa terganggu. Angka 2 yang tidak sekadar angka tetapi menjadi sebuah gerakan masif dan terorganisir bukan lagi sebuah gangguan tetapi juga menjadi tsunami bagi kekuasaan.
Lantaran itu, tim sukses yang juga tim relawan yang kebanyakan 'tidak ikhlas' berusaha sekuat tenaga agar angka 2 yang kini beredar di spanduk, baliho dan juga ikat kepala agar tetap menjadi angka yang nir makna. Kalau bisa angka dua itu diakuisisi atau dimerger.
Sayangnya angka 2 itu kini tidak sekadar nominal tetapi telah merasuk ke dalam hati jutaan manusia dan telah menjadi gerakan, harapan dan perubahan.
Angka 2 pun telah bersalin rupa menjadi sebuah simbol jari yang menggabungkan telunjuk dan jempol menjadi sebuah makna. Dan, kerap diacung-acungkan sebagai sebuah makna. Belum lagi warna biru yang sering digunakan tim relawan.
Artinya, walaupun angka dua dimusnahkan dari pinggir jalan dan ditutupi dengan spanduk jualan obat kuat dan pemutih bagian tertentu wanita, mungkin tidak ada gunanya.
Karena angka 2 sekali lagi sudah menjadi imaji dan mistis alias gaib. Angka dua nyata tapi telah menjadi imajinasi massal dan bisa berubah bentuk suatu saat bila diperlukan.
Sayangnya bagi tim relawan dan juga penganut 01 mereka tidak konsisten juga. Mereka sangat membenci 02 atau angka dua tetapi rindu angka 2 yang lainnya yaitu: 2 periode!
Times Indonesia, 3 Maret 2019

Comments
Post a Comment
Anda Berkomentar Maka Saya Ada