Skip to main content

1, 3, 4, 5 atawa 5, 4, 3, 1


DERET
hitung dalam judul di atas sama sekali tidak ada maknanya. Dalam ilmu matematika pun saya pikir tidak masuk dalam kategori bahan ajar di sekolah. Karena tidak ada landasan teorinya sama sekali.

Tapi dalam politik, terutama di Indonesia yang syarat dengan anomali, deret hitung itu bisa melahirkan beragam makna dan interpretasi terutama dalam musim kompetisi politik yang tidak sehat seperti sekarang ini.

Ketika Presiden Jokowi mengambil aba-aba jalan sehat di Kendari dengan hitung mundur 5, 4, 3, 1, tidak semata Pak Presiden gagap berhitung matematika dasar tingkat taman kanak-kanak tetapi Pak Presiden tengah bermain-main dengan simbol atawa semiotika yang menjadi kajian di tingkat mahasiswa.

Presiden atau capres petahana atawa capres 01 tidak dalam ajang stand up comedy di televisi partikelir atau melakukan kesalahan berhitung karena lupa tetapi di sana ada unsur 'kesengajaan' untuk menihilkan sementara angka 2 dari dunia popularitas dan elektabilitas.

Angka 2 atau 02 untuk sementara ini--paling tidak sampai 17 April 2019--bisa dikatakan noise, pengganggu, lawan, tukang rese, musuh, hanya mengotori survei, pembuat stres relawan, tukang kritik tanpa solusi, kelompok tak berpengalaman dan kalau bisa minta Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) untuk  menenggelamkannya di laut lepas seperti kapal pencuri ikan.

Gara-gara angka dua ini juga membuat sekelompok orang yang sudah establish, berada di lingkaran kekuasan dan berada di zona nyaman merasa terganggu. Angka 2 yang tidak sekadar angka tetapi menjadi sebuah gerakan masif dan terorganisir bukan lagi sebuah gangguan tetapi juga menjadi tsunami bagi kekuasaan.

Lantaran itu, tim sukses yang juga tim relawan yang kebanyakan 'tidak ikhlas' berusaha sekuat tenaga agar angka 2 yang kini beredar di spanduk, baliho dan juga ikat kepala agar tetap menjadi angka yang nir makna. Kalau bisa angka dua itu diakuisisi atau dimerger.

Sayangnya angka 2 itu kini tidak sekadar nominal tetapi telah merasuk ke dalam hati jutaan manusia dan telah menjadi gerakan, harapan dan perubahan.

Angka 2 pun telah bersalin rupa menjadi sebuah simbol jari yang menggabungkan telunjuk dan jempol menjadi sebuah makna. Dan, kerap diacung-acungkan sebagai sebuah makna. Belum lagi warna biru yang sering digunakan tim relawan.

Artinya, walaupun angka dua dimusnahkan dari pinggir jalan dan ditutupi dengan spanduk jualan obat kuat dan pemutih bagian tertentu wanita, mungkin tidak ada gunanya.

Karena angka 2 sekali lagi sudah menjadi imaji dan mistis alias gaib. Angka dua nyata tapi telah menjadi imajinasi massal dan bisa berubah bentuk suatu saat bila diperlukan.

Sayangnya bagi tim relawan dan juga penganut 01 mereka tidak konsisten juga. Mereka sangat membenci 02 atau angka dua tetapi rindu angka 2 yang lainnya yaitu: 2 periode!


Times Indonesia, 3 Maret 2019

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...