Skip to main content

Selendang yang membuat Anies Baswedan luluh

IBU Saidah bukan apa-apa juga bukan siapa-siapa. Tapi sosok itu sangat menginspirasi Anies Baswedan, seorang gubernur yang berkuasa di DKI Jakarta. Seorang yang memiliki wewenang untuk menggusur atau mengusir siapapun dari Ibu Kota, apalagi kalau seseorang itu tinggal di bantaran kali yang kumuh.

Tapi seorang Anies, rupanya sangat menghargai kemanusiaan. Siapapun orang di Jakarta termasuk yang hidup di kolong jembatan sekalipun memiliki hak untuk hidup dan diperhatikan atau paling tidak diperlakukan secara manusiswi.

Ketika warga Bukit Duri berbondong-bondong ke Balaikota, Jumat (27/10/2017) pagi, Gubernur Anies dan wakilnya, Sandiaga Uno menyambutnya dengan senyuman mengembang. Warga pun datang tak sungkan dan mereka berebut untuk berjabat tangan erat.

Di Balaikota kini tidak ada lagi kata-kata kasar atau istilahnya kosakata busuk yang berasal dari comberan atau ujaran dari kebun binatang. Tak ada juga pemandangan pongah ketika seorang gubernur memarah-marahi seorang ibu berwajah pucat dan berkerudung lusuh.

Malah seorang ibu sempat menampakkan wajah terkejut sekaligus bahagia ketika Wakil Gubernur Sandi mengucapkan selamat kepada warga Bukit Duri yang telah memenangi gugatan class action di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas penggusuran yang dilakukan Gubernur Basuki Tjhaja Purnama alias Ahok. Padahal konsekuensi gugatan itu sangat berat, paling tidak Pemerintah DKI Jakarta harus membayar ganti rugi kepada warga Bukit Duri sebesar Rp18,6 miliar dari tuntutan semula Rp1,07 triliun.

"Pertama-tama selamat sudah menang, berarti Allah mendengarkan dan mengabulkan. Tapi ini belum selesai, bersama-sama dengan pemerintah kita tata ya," kata Sandi. "Kita tata nih, bener nih. Didukung ya tapi, nanti dilawan lagi," Sandi berseloroh.

Anies, sebelumnya sudah memastikan tidak akan melakukan upaya hukum lain atau banding atas keputusan pengadilan kendati sejatinya memberatkan Pemerintah DKI Jakarta. Anies memiliki cara lain untuk memuliakan penghuni bantaran kali seperti warga Bukit Duri.

Pertemuan dengan warga Bukit Duri di Balaikota juga sekaligus mengenang pertemuan Anies dengan Saidah yang juga hadir bersama Romo Sandiawan. Saidah seorang ibu yang pernah menghadiahi Anies sebuah selendang gendongan cucunya. Kain itu tersimpan di dalam mobil dan tak pernah ketinggalan dalam setiap perjalanan Anies. Kain yang menjadi pengingat Anies kepada orang-orang kecil.

"Bukit Duri bagi saya pribadi agak berbeda. Saya tadi bawa selendang yang diberikan Bu Saidah yang biasa dipakainya mengendong cucunya," ujar Anies.

Anies mengungkapkan selendang itu diberikan Saidah pada 9 Januari 2017 sebagai simbol agar Anies 'mengendong' anak-anak di Jakarta. "Ini bukan hanya titipan yang sederhana dan selendang itu selalu ada di mobil. Ini jadi pengingat bagi saya bahwa ini adalah amanat dari seorang ibu di sebuah kampung yang jadi puing-puing," kata Anies.

Anies juga mendapat cerita warga Bukit Duri ada yang melahirkan di reruntuhan dan puing-puing kemudian menamai anaknya Si Puing. Mendengar itu warga dan wartawan di Balaikota tertawa.

"Jadi kita ingin serius dan ingin pesan ini sampai kepada semua bahwa kota ini harus menjadi kota yang manusiawi yang memberikan kesempatan sama kepada semua," kata Anies seperti ditulis Antara.

Dan Anies juga mengaku telah menyampaikan ucapan terima kasih ke pengacara, para pegiat sosial dan aktivis lingkungan karena mereka milih membantu padahal tak ada perintah konstitusional.

Saidah datang ke Balaikota menemui Anies bukan untuk mengambil kain lusuhnya. Saidah tak membutuhkannya lagi karena Noval, cucunya kini sudah berusia 2 tahun 6 bulan. Sudah bisa berlari dan bermain bersama teman-temannya.

"Biarkan selendang itu untuk Pak Anies. Agar Pak Anies tidak merasa sendirian dan juga tidak melupakan kami," ucapnya berkaca-kaca.

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...