Skip to main content

Pak Raden, sang legenda itu

SEANDAINYA Drs. Suyadi alias Pak Raden masih hidup, tepat hari ini usianya genap 85 tahun. Namanya tentu akan selalu dikenang karena karya monumentalnya, serial Si Unyil tetap hadir menyapa dan menghibur penggemar sesuai zamannya.

Bahkan pada ulang tahunnya yang ke-84 atau satu tahun setelah Pak Raden meninggal, mesin pencari sekelas Google pun memberikan penghormatan dengan menampilkannya dalam Google doodle.

Serial Si Unyil tayang pertama kali di Stasiun TVRI, 5 April 1981 dengan tokoh-tokoh sarat karakter. Dan, sampai sekarang masih dapat dikenang bagi yang pada era 80-an hingga 90-an masih usia sekolah dasar dan remaja.

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh utamaya Si Unyil sapaan dari mungil yang artinya kecil dan muslim, Ucrit seorang teman beragama Katolik, Usro seorang rekan sepermainan yang rambutnya belah tengah dan teman-teman perempuan mereka masing-masing Meilani, Siti dan Menik.

Juga ada tokoh sepermainan Unyil tetapi karakterya selalu bermusuhan masing-masing Cuplis, Endut dan Pesek.

Karakter lain yang juga mewarnai serial Si Unyil adalah sosok Pak Raden yang dimainkan Suyadi sendiri. Seorang sosok darah biru, pemarah dan pelit. Apakah ini karakter asli Pak Raden? Wallahu alam.

Yang jelas, dalam setiap tampilannya di depan publik, Suyadi pun kerap mengggunakan atribut dan karakter Pak Raden. Tokoh ini sangat melekat dan menjiwai kehidupannya. Termasuk, dalam sejumlah iklan komersial di televisi partikelir.

Nah, terakhir Pak Ogah yang dikenal sebagai seorang pandir, pengangguran dan juga pemalas. Karakter berkepala plontos ini dikenal dengan 'jargonnya', "Ogah ah" atau "Cepe dulu dong!"

Suyadi yang lahir di Puger, Jember, Jawa Timur, 28 November 1932 dikenal sebagai anak menak. Ayahnya seorang pamong yang mengabdi pada pemerintahan kolonial Belanda.

Dengan modal itulah Suyadi dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) selama delapan tahun dari 1952 hingga 1960. Selepas dari ITB kemudian melanjutkan pendidikan ke Prancis dengan mengambil spesialisasi animasi dari 1961 hingga 1963.

Selama di Prancis itulah ide untuk membuat karakter serial televisi terus mengusiknya. Wawasannya semakin terbuka setelah melihat sejumlah tayangan televisi khsususnya untuk program anak-anak produksi Walt Disnney. Suyadi muda pun tak sabar untuk membuat program sejenis di Tanah Air.

Ide yang belakangan jadi masterpiece-nya itu baru terwujud hampir dua dasawarsa kemudian setelah menggandeng penulis cerita dan pembuat boneka yang selama ini ada dalam bayangannya.

Nana Ruslana seorang seniman asal Tasikmalaya, Jawa Barat dibantu rekanya Yudha Winata berhasil menciptakan karakter boneka yang diinginkan Suyadi. Nana yang sudah bekerja sama dengan Suyadi sejak tahun 70-an rupanya bisa menerjemahkan ide-ide Suyadi.

Proses pembuatan karakter boneka serial Si Unyil terbilang sederhana. Boneka dibuat dari tanah liat sebagai master. Kemudian boneka itu dibungkus dengan kertas koran selanjutnya diplamir dan dicat khusus plus memakai cat tembok. Satu boneka rampung dalam sepekan tetapi kalau cuaca tidak bagus bisa sampai bisa lebih lama.

Uniknya dengan cara ini, Nana bisa membuat boneka Si Unyil sampai delapan ragam ekspresi. Mulai dari perasaan senang, sedih, kaget, dan lain-lain.

Kesuksesan Si Unyil pun akhirnya berbuah anugerah Kebudayaan untuk Pak Raden. Seniman multitalenta ini pun mendapat proyek dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai ilustrator buku Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar. Sejumlah buku anak-anak pun lahir dan menjadi bacaan favorit anak-anak pada masanya seperti Seribu Kucing untuk Kakek, Pedagang Peci Kecurian, Gua Terlarang, Joko Kendil, dan Siapa Punya Kuali Panjang.

Perum Produksi Film Negara (PPFN) yang memproduksi serial Si Unyil pun ketiban proyek besar dari Unicef yang menjadikan Si Unyil sebagai bahan pembelajaran. Sejumlah uang  dikucurkan Badan PBB untuk Pendidikan Anak-anak untuk penelitian dan pengembangan Si Unyil, penerbitan buku serta pembuatan film dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Sayangnya, kesuksesan itu tidak berlanjut ketika usia Pak Raden semakin senja.  Masa tua Pak Raden sangat memprihatinkan sempat hidup di rumah kontrakan sempit dan kusam di Jalan Kebon Nanas I/22, Jakarta Timur. Tak jauh dari Gedung PPFN di Jalan Raya Otista, Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Kediaman terakhirnya pun di sebuah rumah bernomor 27 di Petamburan, Slipi, Jakarta Barat, tak juga lebih baik. Masih gelap dan kusam. Yang membedakan dari rumah di sekitarnya, tempat tinggal Pak Raden lebih hidup dan bernyawa lantaran ada sentuhan karya seni seperti pajangan boneka serial Si Unyil dan juga sejumlah karya ilustrasi.

Pada tahun 2012 Suyadi sempat mempermasalahkan royalti kepada PPFN. Sebab lebih dari 30 tahun sejak mencipta karakter Si Unyil hak cipta masih juga dipegang perusahaan pelat merah tersebut sesuai dengan surat kontrak 139/P.PFN/XII/1995.

Pun, dari televisi partikelir yang juga menayangkan serial 'Laptop Si Unyil' pun penghasilan Pak Raden tak juga membaik karena hanya mendapat upah sebagai pengisi suara Pak Raden.

Sampai-sampai untuk menyambung kehidupannya yang sudah senja Pak Raden harus menggalang dana di kediamannya di Petamburan. Aksinya, tidak hanya soal materi tetapi juga sebagai wujud protes kepada pemerintah agar nasib yang sama tidak menimpa para pencipta karya kreatif seperti dirinya.

Semangat hidupnya tak pernah surut  tapi takdir menetapkan lain. Hampir sebulan mendekati ulang tahunnya ke-83, Suyadi meninggal 30 Oktober 2015. Sebelumnya sempat dirawat di RS Pelni Petamburan setelah mengalami infeksi paru-paru dan demam tinggi.

Harimau mati meninggalkan belang, Pak Raden mangkat meninggalkan karya. Serial Si Unyil kini masih bisa disaksikan di televisi berbayar UseePRIME IndiHome, sebuah grup usaha milik PT Telkom (Persero). Tidak lagi berbentuk boneka dari tanah liat tetapi sudah menjadi bagian dari produksi animasi tiga dimensi.

"Royalti dulu... eh cepe dulu dong," kata Pak Ogah.


*)Tulisan utuh pernah dimuat di rilis.id

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...