Skip to main content

Dahlan Iskan, si Bewok dan Ahok

AWALNYA, saya melihat ketiga nama yang sudah menjadi elite nasional itu tak ada hubungannya sama sekali alias berdiri sendiri. Belakangan setelah mencermati isu pemberitaan media massa dan memaknai segenap rumors di media sosial, saya melihat nama Dahlan Iskan, Surya Paloh (Bewok) dan Ahok bertransformasi melebihi nama itu sendiri, sangat luber dengan nilai dan konspiratif.

Bila ketiga nama itu disandingkan dan ada keharusan untuk memilih, tentu saya tanpa berpikir terlalu lama saya akan memilih Dahlan Iskan. Termasuk bila ada tambahan nama lain seperti Jokowi. Tetap saya akan memilih Dahlan Iskan. Tentu di sini saya harus memberikan alasannya agar fair sehingga tidak dicurigai bukan-bukan oleh gerombolan  yang memiliki pemahaman berbeda dengan saya.

Perlu dijelaskan pula, ketika Dahlan Iskan menjabat Dirut PT PLN (Persero) dan juga Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), saya termasuk sering menulis dan mengkritisi pemilik Grup Jawa Pos itu.  Beberapa polah dan goyonan tentang Dahlan Iskan saat 'dikerjain' anggota Komisi VII (Energi) dan Komisi VI (BUMN) saya abadikan dalam tulisan blog berjamaah, kompasiana (Pak Dahlan Gajinya Ditransfer?, Gara-gara Dahlan Iskan Hati Opung Butar-butar Hancur, Dahlan Iskan dan Istri Cantiknya).

Saya termasuk yang setuju, tersangka korupsi sekecil atau sebesar apapun harus diproses secara hukum. Saya  setuju kejaksaan harus agresif bahkan kalau masih loyo perlu dikasih suplemen tambahan atau jamu kuat. Bila tidak ada di Indonesia karena mendesak kenapa tidak diimpor pula dari China sekalipun. Tak masalah karena korupsi termasuk extra ordinary crime alias kejahatan luar biasa.

Tapi yang membuat akal sehat saya gusar, kenapa Dahlan Iskan yang sampai saat ini masih dihitung pakai kalkulator terbaru, kejaksaan begitu bernafsu untuk segera menahannya. Selesaikan dululah menghitungnya. Bukan begitu loginya? Berapa kerugiannya? Jangan-jangan malah BUMD Provinsi Jawa Timur saat dipegang Dahlan setnya malah meningkat, untung atau apappun namanya.

Lalu apa kaitannya dengan Ahok? Ya, jelas Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani Ahok ternyata malah letoy dalam menangani kasus yang membelit gubernur petahana ini. Kasus Sumber Waras sudah jelas kerugiannya dan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) sudah menunjukkan angka pasti termasuk angka yang di belakang komanya.

Dahlan sendiri menyikapi penahanannya sebagai bentuk intervensi tangan-tangan penguasa di pusat. Namun, wartawan senior yang sukses mengangkat koran lokal beroplah 3.000 eksemplar menjadi koran nasional hingga beranak, bercucu dan bercicit ini, tidak menyebut nama secara spesifik.

Namun, para simpatisan Dahlan Iskan di media sosial secara gamblang di antaranya menyebut salah tokoh media nasional yang juga pemilik saham partai politik Nasdem. Surya Paloh (SP) disebut-sebut termasuk yang tidak nyaman dengan masif dan merajalelanya jaringan media milik Dahlan Iskan. Kelompok media seperti Media Group dan juga Kelompok Kompas Gramedia pun termasuk yang bersaing ketat dengan Jawa Pos Group.

Ketika Media Group dan Kelompok Kompas Gramedia baru bisa masuk sampai tingkat provinsi dan itu pun terseok-seok, kelompok media milik Dahlan Iskan sudah sampai kabupaten/kota. Belum lagi ratusan televisi lokalnya. Bila ada yang menuliskan soal ini, bisa juga diterima namun harus diverifikasi lagi.

Saya tetap melihat penahanan Dahlan Iskan itu sangat ganjil. Apalagi kalau alasan kejaksaan khawatir bila Dahlan Iskan menghilangkan barang bukti atau mungkin melarikan diri. Mau lari kemana? Dahlan adalah jurnalis sejati. Mau nulis dan mengkritisi apa dia kalau kabur ke luar negeri. Sementara gudangnya masalah itu kan adanya di Indonesia.

Arkian, saya terus terang saja lebih memilih Dahlan Iskan dalam kasus ini. Ini murni soal kesetiaan pada profesi. Ketika sakit misalnya (transplantasi hati), Dahlan masih bisa menulis sangat indah dan inspiratif yang kemudian dibukukan bertajuk Ganti Hati.

Nah, kini pun rupanya Dahlan Iskan di ruang tahanan yang lembab, dingin, apek dan dihuni tujuh orang tidak menghalanginya untuk tetap menulis dan dimuat dalam harian yang dibesarkannya, Jawa Pos, mulai hari ini (Senin, 31/10/2016). Tulisan yang disebut-sebut berlogika sehat, jujur dan tidak kagetan itu juga diunggah secara berseri dalam situs MomentumDahlan.com.

Surya Paloh dan Dahlan Iskan sama-sama jurnalis senior cum pengusaha.  Senior saya di Kampus Tercinta yang juga jurnalis andal Andy F. Noya saat menjadi calon reporter di Harian Prioritas (sebelum dibredel) yang didirikan Surya Paloh sempat menyebut bosnya itu mirip Che Guevara.

Namun bila disandingkan keduanya, apa karya besar (masterpiece) mereka? Siapa yang paling menginspirasi? Surya Paloh yang banyak bicara/orator (sering di-rolling di Metro TV) atau Dahlan Iskan yang menulis (berjaringan di medianya)?

Tentu saya tak harus menjawabnya. Pembaca tahu dan bisa menilai sendiri. Karena saya sangat percaya dengan ungkapan latin Scripta manent verba volant (apa yang tertulis akan abadi sedangkan omongan akan lenyap bersama angin).

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...