Skip to main content

Wajah mesum DPR dalam buku Djenar

ISU apapun seolah menjadi mesum dan tak jauh dari selangkangan bila membaca sekilas cerpen atau buku kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu. Mulai dari buku yang saya baca sekilas (tapi tak saya koleksi) seperti ‘Mereka Bilang Saya Monyet’, ‘Jangan Main-Main (Dengan Kelamin)’ dan ‘1 Perempuan 14 Laki-Laki’.

Praktis semua ‘onderdil’ milik laki-laki dan juga perempuan ditulis tanpa tedeng aling-aling. Bertebaran! Bahasa yang digunakan amat lugas, bahasa kamus dan nir eufemisme. Nyaris tak ada bahasa tulis Pujangga Baru.

Buku Djenar terbaru yang iseng saya baca di sebuah toko buku berjudul ‘Saia’. Berisi 15 cerpen. Dua cerpen yang mendapat perhatian saya berjudul ‘Mata Telanjang’ dan ‘Ranjang’. Soalnya bercerita tentang politisi dan anggota DPR.

‘Mata Telanjang’ bercerita tentang seorang politisi muda yang juga anggota Badan Anggaran, naksir kepada perempuan penari telanjang. Politisi itu minta imbalan penari telanjang kepada mitranya dengan kompensasi proyeknya akan diatur di Banggar.

…politikus muda yang selalu bicara soal moral itu duduk dengan mata penuh berahi memandangi para penari telanjang meliuk-liuk di atas panggung….


Nah, cerpen ‘Ranjang’ tak jauh berbeda. Namun kali ini anggota DPR ‘yang lain’ ini tengah berselingkuh dengan perempuan yang mencintainya sepenuh hati. Selingkuhan ‘yang beda’. Perempuan yang tidak banyak menuntut dan termasuk yang menerima kekurangannya (maaf, interpretasi saya penisnya kecil).

Cerpen ini sejak alinea awal sudah dibuka deskripsi nakal, “Tubuh perempuan telanjang yang tergolek di atas ranjang itu memancing kembali gairahnya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum rapat memaksanya pergi. Waktu yang sangat cukup untuk dipakai bercinta dan mandi.”

Kemudian cerpen itu ditutup dengan ironi, “Ia menghela napas lalu melirik ke arah jam yang melingkar di tangan kiri. Masih ada sisa waktu lima puluh menit lagi sebelum rapat memaksanya pergi. Waktu yang sangat cukup untuk dipakai bercinta dan mandi, sebelum meluncur ke Gedung DPR RI demi membahas Rancangan Undang-undang Anti Pornografi.”

Comments

Popular posts from this blog

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...