Skip to main content

Jiwa Sosial Media Massa di Tengah Bencana

Oleh: Yayat R Cipasang
Penulis lepas dan kini tengah menyelesaikan draf buku “Jurnalis Overdosis”

PERNYATAAN Menko Kesra Aburizal Bakrie yang menyebutkan pers telah membesar-besarkan banjir Jakarta yang ditimpali pembenaran dengan menyebutkan korban banjir masih bisa tersenyum menjadi representasi jiwa pemerintah yang tak berempati pada korban bencana. Padahal dalam sepekan banjir jumlah korban tewas sudah 53 orang.

Aburizal Bakrie saya pikir salah menerjemahkan senyum dan tawa pengungsi. Bisa jadi Aburizal Bakrie benar-benar melihat korban banjir sedang tertawa atau bercanda karena yang dilihat anak-anak yang memang sedang bermain dalam kubangan air. Karena memang dunia anak-anak penuh canda dan tawa. Bisa juga Aburizal Bakrie baik secara langsung atau melalui layar televisi melihat para orangtua yang memang sedang tertawa. Tetapi itu sebenarnya bukan tertawa bahagia tetapi tertawa dalam rangka menghibur diri atau menertawakan nasibnya sendiri.

Tetapi yang jelas, pemerintah masih tetap lamban dan tidak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Padahal, banjir besar bukan kali ini terjadi tetapi juga banjir serupa pernah terjadi pada Februari 2002.

Pemerintah juga selalu menganggap pemberitaan pers selama ini sebagai hasil dramatisasi. Seandainya ada dramatisasi itu pun tidak mungkin dilakukan semua media. Apalagi media massa besar tidak mungkin mengorbankan citra, reputasi dan kredibilitasnya dengan cara mendramatisasi peristiwa bencana untuk menjual oplah atau mengejar rating.

Empati Pers versus Pemerintah

Pers sebagai alat kontrol memang selalu berbeda tafsir dengan pemerintah dalam cara memandang perstiwa bencana. Pemerintah selalu keukeuh dengan birokrasi dan prosedural. Ini sebaliknya dengan pers yang jurnalisnya bekerja cukup dengan berbekal pesan singkat (SMS) dari kantor redaksi atau newsroom langsung bergerak cepat di lapangan. Pers sangat lincah dan fleksibel. Mungkin karena pers sudah biasa dengan suasanan dan kondisi penuh tekanan bahkan di dunia televisi kecepatan berita dihitung dalam detik.

Kelincahan jurnalis di lapangan menyebabkan empati mereka atas peristiwa bencana sangat tinggi. Ini berbeda dengan birokrasi yang berada di menara gading. Mereka baru bereaksi setelah pers memberitakannya. Malah kadang-kadang pemerintah baru bergerak setelah mendapat kritikan pedas dari masyarakat atau setelah korban banyak berjatuhan.

Di tengah sistem pemerintahan otonomi daerah yang gagap seperti sekarang ini kontrol pers atas peristiwa bencana sangat dibutuhkan. Otonomi hanya di atas kertas sebab pada dasarnya mental pejabat provinsi atau daerah masih tergantung dan hanya menunggu bantuan atau berdalih belum ada koordinasi. Mereka masih terbiasa menunggu instruksi dari atas (top down) seperti di zaman feodal Orde Baru.

Pemerintah daerah termasuk DKI Jakarta, misalnya, tidak memiliki manajemen banjir kendati dari zaman VOC, ibu kota kerap dilanda banjir. Pers di sini tidak bisa disangkal telah berperan menekan dan mengingatkan pejabat pemerintah agar peduli dengan banjir dan kadang memberikan solusi.

Jiwa Sosial Institusi Pers

Belakangan, empati institusi pers juga tidak saja dibuktikan dengan produk pemberitaan yang banyak memihak korban tetapi juga diwujudkan dalam bentuk nyata. Malah banyak kasus, sebelum bantuan pemerintah masuk bantuan institusi media massa telah masuk paling dulu baik berupa evakuasi awal maupun bantuan dalam bentuk makanan dan sandang.

Beberapa media massa bahkan sudah memiliki lembaga sendiri yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan atau menggalang dana dalam waktu cepat. SCTV memiliki Pundi Amal SCTV, RCTI (RCTI Peduli), Republika (Dompet Duafa Republika), Kompas (Dana Kemanusiaan Kompas) dan Pikiran Rakyat lewat Sumbangan Pembaca “PR”.

Upaya perusahaan pers yang responsif atas peristiwa bencana seperti banjir di Jakarta atau peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan bencana lainnya perlu disikapi positif. Abaikan untuk sementara kecurigaan di balik semua bantuan yang dilakukan pers karena sampai sekarang belum ada bukti bahwa bantuan mereka tidak bermanfaat. Saya pikir semuanya bermanfaat. SCTV, Pikiran Rakyat, Grup Femina dan banyak lagi media lainnya mereka tidak hanya membantu korban bencana di Aceh dalam bentuk jangka pendek tetapi juga yang sifatnya jangka panjang. Mereka membantu dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan membangun pesantren dan malah kualitas bangunannya lebih baik dibanding sebelum tsunami menggerus Aceh.

Jiwa sosial media massa adalah bagian dari corporate social responsibility (CSA). Dalam manajemen modern tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat adalah bagian yang tidak terpisahkan dan malah sebuah keharusan dalam tuntutan dunia global. Tanggung jawab sosial selain fungsional juga dengan sendirinya akan membawa dampak positif bagi perusahaan. Citra atau image sebagai bagian dari media massa dengan sendirinya akan diraih.[]

Jakarta, 9 Februari 2007

=======

Yayat R Cipasang lahir dan dibesarkan di sebuah udik di Priangan Timur, tepatnya di Ciamis, 29 Maret 1973. Menulis kreatif sejak sekolah menengah pertama dan baru berani mempublikasikan tulisan saat kelas tiga sekolah menengah atas di distrik terpencil. Artikel pertama tentang kegiatan sekolah dimuat di Tabloid Mitra Desa (Grup Pikiran Rakyat Bandung) pada 1992. Nafsu menulis tak terbendung saat kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Sayang di kampus "Institut Publisistik Bogor" ini penulis tak bertahan karena harus menerima vonis drop out. Semangat menulis tak pernah padam hingga kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (2000). Sejumlah tulisan berupa feature, resensi buku, dan artikel dimuat di Pikiran Rakyat, Waspada, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Buana, Tabloid Wanita Indonesia, Majalah Pantau dan Reader's Digest Indonesia.[kangyayat@gmail.com]

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...