Skip to main content

Rakyat Merdeka, Jawa Pos dan Berita Bohong

Foto: Shoppe.co.id

“RAKYAT Merdeka Pecat Wartawan yang Membuat Berita Bohong.” Judul berita tersebut dimuat di situs www.rakyatmerdeka.com, edisi 22 Juni 2006. 

Dalam berita itu disebutkan pimpinan Rakyat Merdeka telah memecat wartawannya yang berinisial BF. BF dipecat karena membuat berita bohong di harian milik Grup Jawa Pos itu. BF terbukti membuat berita bohong dalam headline berjudul “Aburizal: Saya Sibuk”, edisi Selasa 20 Juni 2006. 

 Kasus wartawan BF ini terungkap setelah redaksi menerima surat keberatan dari Sekretaris Kementerian Kesejahteraan Rakyat Soetedjo Yuwono. Surat bernomor B 1349/KMK/SES/VI/2006 itu membantah kehadiran wartawan Rakyat Merdeka di kantor Kementerian Kesra pada saat kejadian yang dimaksud. 

 Isu yang dimintai konfirmasi seputar lumpur panas PT Lapindo Brantas yang sebagian besar sahamnya milik keluarga Bakrie. Belakangan, BF seolah-olah mendapat berita hit and run (hasil cegatan) dan kemudian dibuat mejadi berita berjudul “Aburizal: Saya Sibuk”. 

Sang wartawan mengaku terpaksa membuat berita bohong karena takut dianggap tidak berhasil menjalankan tugas dari redaktur. Pengakuan yang lucu sekaligus menggelikan! 

Produk berita bohong di Grup Jawa Pos bukan yang pertama kali terjadi. Kasus terakhir yang membuat heboh adalah skandal wawancara dengan Wan Nooraini Jusoh, istri almarhun gembong teroris Doktor Azahari. 

Dua tulisan berseri berjudul Kasihan, Warga Tak Berdosa Jadi Korban (Senin, 3 Oktober 2005) dan Istri Doakan Azhari Mati Syahid (Kamis 10, November 2005). Kedua hasil wawancara itu ditulis berseri di halam depan Indo Pos dan Jawa Pos. 

Belakangan diketahui kedua wawancara berseri yang berlabel “eksklusif” itu adalah hasil imajinasi dan “karya kreatif” sang reporternya. 

 Kasus ini terungkap setelah pembaca dan para jurnalis curiga karena hanya pewarta Jawa Pos yang “berhasil” mewawancarai Nooraini Jusoh yang diketahui menderita kanker di tenggorokan yang merusak pita suaranya—sudah pasti tak bisa berbicara. Diperkuat lagi oleh sejumlah jurnalis Indonesia yang dikirim ke Malaysia seperti SCTV, Trans TV dan Metro TV. Mereka semuanya tak bisa mewancarai Nooraini Jusoh. 

 Beberapa hari kemudian Pemimpin Redaksi Jawa Pos membuat pernyataan mengejutkan. Meminta maaf! "Tanpa bermaksud membela diri, bukankah hal serupa pernah terjadi pada koran lain, bahkan di negara lain yang sudah memiliki tradisi jurnalistik yang lebih tua dan lebih mapan dibanding dengan kita?" 

Demikian sebagian kutipan permintaan maaf tersebut. Selama ini kasus yang terungkap dalam pers Indonesia secara umum paling hanya pemelintiran berita dan masalah buruknya akurasi. 

Ujung-ujungnya paling pengaduan atau somasi dari sumber berita yang dirugikan dan selanjutnya dapat diselesaikan dengan jalan damai. Namun yang terjadi pada kasus Grup Jawa Pos ini sangat fatal dan sudah mencederai publik. 

Padahal dalam filosopi media, kredibilitas dan akuntabilitas adalah panglima. Kenapa Grup Jawa Pos bisa sampai mengingkari kredibilitas? 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme (2001) sudah mengingatkan sejumlah pantangan bagi jurnalis. Di antaranya pewarta dilarang menambah atau mengarang apapun; dilarang menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar. 

Selain itu reporter juga diharuskan setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi dalam melakukan reportase dan terakhir rendah hati. 

Begitu juga dalam Kode Etik Jurnalistik Pasal 4 dengan tegas menyatakan: “Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.” 

Dalam pasal ini berita bohong ditafsirkan sebagai sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Dalam milis jurnalisme ada testimoni menarik dari seorang Candra Malik yang pernah lima tahun bekerja di harian Jawa Pos/Indo Pos. 

Menurut dia pembuatan berita bohong atau kriminalisasi berita sudah bukan rahasia lagi di news room Jawa Pos/Indo Pos alias sudah “tahu sama tahu”. Bahkan sudah pada tahap yang penting “bos senang”. 

Pengakuan ini paling tidak menegaskan bahwa ada sesuatu yang tidak beres di news room Grup Jawa Pos. Saya sebagai orang luar hanya bisa menduga-duga sambil berharap dugaan itu tidak salah. 

Pertama, soal sumber daya manusia. Berita adalah out put dari pikiran dan sikap reporter. Pewarta yang membuat berita bohong integritas kewartawanannya patut diragukan. Kasus ini terjadi, bisa jadi saat perekrutan reporter di Grup Jawa Pos ada tahapan yang salah. 

Buktinya kasus berita bohong ini tidak hanya terjadi satu kali tetapi berulang-ulang. Kedua, rutinitas dan kejenuhan. Secara psikologis rutinitas dan pekerjaan yang terpola akan diikuti kejenuhan. Seseorang yang jenuh akan menulis atau bekerja “pas banderol”. 

Artinya tidak ada usaha dari si reporter untuk memverifikasi serta kemungkinan mengabaikan upaya cek dan ricek lebih tinggi. Belum lagi seperti ditulis pengamat dan praktisi pers Andreas Harsono dalam milis pantau-komunitas bahwa di Grup Jawa Pos seorang reporter minimal membuat tiga berita. 

Dalam penilaian saya, target ini selain memberatkan wartawan juga kontraproduktif dengan kualitas berita. Saking malasnya bisa saja seorang reporter comot sana dan comot sini dari situs mesin pencari dan jadilah sebuah tulisan. Bila kemalasan memuncak: buatlah berita bohong! Sangat fatal! 

Mungkin patut dicontoh kebijakan yang dibuat sebuah koran harian nasional dalam mengakomodasi kejenuhan wartawannya. Bila seorang reporter sudah mencapai tingkat kejenuhan, manajemen koran ini menganjurkan sang reporter untuk memilih cuti, menulis buku dengan biaya dari kantor atau sekolah. 

Solusi ini sungguh menarik karena pada akhirnya akan melahirkan sumber daya yang bagus bagi perusahaan. Ketiga, rendahnya gaji atau pendapatan reporter. Kasus ini memang masalah klasik tetapi cukup menyumbang banyak bagi etos dan kinerja reporter. 

Banyak kasus terjadi, tulisan berkualitas jelek pada umumnya terjadi pada media yang menggaji reporternya sangat rendah. Tentu saja untuk meyakinkan asumsi dan pengamatan secara acak ini perlu pembenaran dan penelitian secara kuantitatif. Keempat, mungkinkah ideologi atau filosopi Grup Jawa Pos salah? 

Selama ini Grup Jawa Pos dikenal cukup ekspansif dan pemberitaannya cenderung bombastis. Koran-koran Grup Jawa Pos menjual headline untuk mendokrak oplah. Begitu juga ketika pada hari libur nasional koran lain tidak terbit, koran yang berada di bawah manajemen Grup Jawa Pos tetap membanjiri pasaran. 

Memang beginilah risiko koran yang mengandalkan pendapatan utamanya dari penjualan oplah, bukan dari iklan. Berita bombastis dan label “eksklusif” menjadi modal utama. Tetapi bila tidak hati-hati berita bombastis, hiperbola dan spekulatif menyeret redaksi pada upaya mengkonstruksi dan merekayasa berita. 

Bisa saja redaksi misalnya memberikan pembenaran toh kasus berita bohong juga masih terjadi di negara-negara yang mempunyai tradisi jurnalistik yang sudah tua dan mapan. 

Memang, di Amerika Serikat saja yang mempunyai tradisi dan teori jurnalisme hebat dan menjadi kiblat, kasus berita bohong masih terjadi. Bila menonton kisah nyata dalam film Shattered Glass (2003), misalnya, kita bisa melihat begitu gilanya seorang Stephen Glass. 

Wartawan berusia 25 tahun ini tidak tanggung-tanggung membuat 27 tulisan yang umumnya laporan utama di majalah The New Republic adalah hasil rekayasa alias bohong. Glass juga dikenal sebagai kontributor untuk Rolling Stone dan The New York Times Magazine. 

Tetapi kasus ini tidak bisa menjadi pembenaran. Dunia pers adalah ladang pengujian kredibilitas, akuntabilitas dan dunia citra. Bila citra, kepercayaan dan akutabilitas hancur bersiap-siaplah koran menggali kuburannya sendiri dan dilupakan pembaca untuk selamanya. 


Jakarta, 25 Juni 2006

Comments

  1. Anonymous3:42 PM

    Kalau kebalikannya bagaimana Kang Yayat, info yang diterima dari luar malahan yang palsu. Dalam hal ini, Radio Republik Indonesia, tempat Titi Surya; rri-online.com pernah menerima info wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang ternyata bohong. Lebih dari itu, Elshinta News & Talk menerima info yang ternyata juga cuma asbun, desas-desus, kabar bohong, rumor, SPAM. Di kalangan penerbit buku juga misalnya ternyata isinya cuma kompilasi dari tulisan orang lain. Padahal, seharusnya wajib minta izin dahulu. Jadi, itupun termasuk bohong besar.

    Tentang kebohongan di negara Republik Indonesia ini memang jadi topik menarik. Dilihat dari sejarahnya, tradisi keilmuan kita sangat rendah. Jadilah segala bentuk kebohongan semakin berbalik menduduki peringkat pertama. Artinya, justru yang jujur disingkirkan, dikucilkan, dan tidak bisa berbuat apa-apa, ditengah-tengah kebohongan dan kepalsuan.

    ReplyDelete
  2. Blog yang asyik.

    Jika Anda membaca dengan hati. Men-jeli setiap kata/frasa/kalimat di koran-koran atau majalah di Indonesia yang tergolong 'hebat' dan kredibel, bahkan, Anda akan banyak menemukan kebohongan.

    Jawa Pos, mungkin banyak berita yang didesain secara bombastis. Tapi kebohongan yang Anda maksud adalah personal sekali.

    salam
    Sultan,
    www.adalahcerita.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Anonymous10:15 PM

    Hi people
    I do not know what to give for Christmas of the to friends, advise something ....

    ReplyDelete
  4. Anonymous6:35 PM

    Hello. Good day
    Who listens to what music?
    I Love songs Justin Timberlake and Paris Hilton

    ReplyDelete
  5. Anonymous4:01 PM

    I have posted some private pics of mine, without face. Just tell me - can you call me hot babe?
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-bareback-sex-videos.html]free bareback sex videos[/url]
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-just-married-sex-videos.html]free just married sex videos[/url]
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-lebian-sex-videos.html]free lebian sex videos[/url]
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-monica-belluci-sex-videos.html]free monica belluci sex videos[/url]
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-sex-sample-videos.html]free sex sample videos[/url]
    [url=http://free-sex-videos.pornfreeporn.info/free-sexual-intercourse-videos.html]free sexual intercourse videos[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/download-free-full-length-porn-movies.html]download free full length porn movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-anime-porn-movies.html]free anime porn movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-full-length-porn-movies.com.html]free full length porn movies.com[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-internet-porn-movies-online.html]free internet porn movies online[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-julian-porn-movies.html]free julian porn movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-mature-movies.com-porn-woman.html]free mature movies.com porn woman[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-porn-movies-jenna-jameson-mpgs.html]free porn movies jenna jameson mpgs[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/free-porno-movies.html]free porno movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/lacey-duvall-free-porn-movies.html]lacey duvall free porn movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/lex-steel-free-porn-movies.html]lex steel free porn movies[/url]
    [url=http://free-porn-movies.pornfreeporn.info/real-free-janet-jackson-porn-movies.html]real free janet jackson porn movies[/url]

    ReplyDelete
  6. Anonymous5:05 PM

    Cool website! Good work. Good resources here. Very nicely done. I will be back!
    - yayat-cipasang.blogspot.com c
    07 car civic honda
    buy used car
    car undefined used
    used car bergen
    used car oakland
    used car greensboro
    used car raleigh
    used car killeen
    used car vallejo
    used car tacoma

    ReplyDelete

Post a Comment

Anda Berkomentar Maka Saya Ada

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...