Skip to main content

Berempati pada Keresahan Iwan Simatupang

Judul : Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air
(Esai-esai Iwan Simatupang)
Editor : Oyon Sofyan dan Frans M. Parera
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : Pertama, Oktober 2004
Tebal : (lxviii+ 388) halaman

IWAN Simatupang adalah sastrawan modern yang pernah dimiliki Indonesia. Karya-karyanya terutama novel sangat terkenal seperti Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968), Ziarah (Djambatan, 1969), Kering (Gunung Agung, 1972), Kooong (Pustaka Jaya, 1975). Merahnya Merah memenangi Hadiah Nasional 1970 dan Ziarah meraih hadiah Roman Terbaik ASEAN tahun 1977.

Iwan yang sangat taat mempraktikkan filsafat eksistensialisme dalam karya-karyanya juga dikenal sebagai penulis puisi, cerpen, esai, dan drama. Sayangnya, Iwan yang meninggal dalam usia produktif bukan termasuk sastrawan yang rajin mendokumentasikan karya-karyanya, termasuk esainya yang banyak menghiasi majalah-majalah kebudayaan seperti Zenith (1951-1954), Kisah (1953-1957) Mimbar Indonesia, Siasat, dan Sastra (1961-1964). Untungnya ada teman Iwan yang belakangan dikenal sebagai Paus Sastra Indonesia, H.B. Jasin, yang rajin mengumpulkan tulisan para sastrawan. Berkat usaha Jasin itulah esai-esai Iwan terselamatkan.

Atas inisiatif Oyon Sofyan dan Frans M. Parera selanjutnya esai-esai yang nyaris menjadi fosil di Pusat Dokumentasi H.B. Jasin kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air (Esai-Esai Iwan Simatupang).

Dari segi waktu, esai-esai ini memang telah usang. Namun, bila disimak lebih dalam, esai-esai ini menyimpan persoalan yang relevan dan aktual. Bahkan, beberapa tulisannya menyimpan proyeksi ke depan tentang situasi kesenian Indonesia modern.

Selain menampilkan keresahan Iwan, kumpulan esai ini juga menggambarkan perjalanan pemikiran, kreativitas, dan latar belakang Iwan Simatupang yang kompleks. Untuk memudahkan melihat kedalaman berpikir Iwan, editor buku ini membagi esai ke dalam Periode Penulis Artikel dan Guru Bahasa SMU (1950-1955), Periode Penulis Drama dan Mahasiswa Humaniora di Negeri-negeri Barat (1955-1959), dan Periode Penulis Novel, Surat Politik dan Reporter Media Massa (1960-1970).

Pada 1986 LP3ES juga menerbitkan surat-surat politik Iwan Simatupang yang bertitel Surat-Surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Surat-surat politik itu didokumentasikan dengan baik oleh seniman lokal dari Yogyakarta, B. Soelarto. Iwan dan Soelarto saling berkirim surat berkaitan dengan situasi politik dan iklim kerja sastrawan dan budayawan menjelang dan sesudah PKI memberontak yang kedua kalinya dalam masa sesudah merdeka. Sayangnya, surat-surat balasan dari B. Soelarto tak diketahui rimbanya karena Iwan memang diciptakan bukan untuk menjadi dokumentator yang baik.

Seperti dalam surat-surat politiknya, dalam buku kumpulan esainya juga, Iwan membuat dua tulisan yang mengungkapkan keresahanya tentang situasi politik pada saat Demokrasi Terpimpin Soekarno. Dalam salah satu suratnya, Iwan yang saat itu sebagai seniman independen mengeluhkan soal kesewenang-wenangan para sastrawan yang tergabung dalam Lekra dengan Partai Komunis-nya. Seniman yang tidak terlibat di Lekra secara sistematis disingkirkan, tulisannya tak bisa dimuat, dan bahkan diteror.

Iwan termasuk seniman yang diteror oleh anggota Lekra. Begitu besarnya teror pada Iwan tergambar dalam dua esainya masing-masing berjudul Manusia-souterrain dan Kalau Demagogi dan Agitasi Dibawa Serta. Iwan berfolemik dalam media cetak dengan seseorang berinisial HS yang menyerangnya lewat majalah budaya Jaman Baru milik Lekra.Mungkin sampai akhir hayatnya Iwan tak mengetahui nama asli di balik inisial itu.

Iwan adalah sastrawan yang mewakili paradigma postmodernisme dan menganut civil society internasional. Dalam pandangan Iwan, penyakit kebudayaan seperti etatisme, liberalisme, dan individualisme dapat diselesaikan atau disembuhkan melalui pertolongan orang luar (di antaranya sastrawan--penulis) secara proporsional, sistematis, dan universal.(hal. 11)

Esai-esai Iwan yang visioner diharapkan bisa menjadi inspirasi dalam mengembangkan budaya, kesenian,dan kesusastaan Indonesia. Sayangnya, editor buku ini tidak menerjemahkan beberapa istilah dan kata asing terutama dari bahasa Belanda dan Prancis yang bertaburan di hampir setiap halaman buku ini. Maklum, Iwan banyak menggunakan istilah asing ini karena pernah sekolah Antroplogi di Belanda dan Filsafat di Prancis.

Kendati demikian, ‘cacat’ itu hanya bagian kecil saja dari nilai buku yang sangat besar. Tidak salah dan tidak berdosa bila sastrawan, budayawan, akademisi, mahasiswa, peminat buku, dan khalayak umum membaca buku ini.[]

Jakarta, 10 Januari 2005

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Lumpur Lapindo versus Lumpur Sidoarjo

BILA mencermati berita televisi selama hampir lima bulan terakhir ini--seputar pemberitaan lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi PT Lapindo Brantas--muncul dua versi istilah yang menonjol, "lumpur lapindo" dan "lumpur sidoarjo".  Kedua istilah ini sama-sama merujuk pada lumpur panas dari PT Lapindo Brantas, perusahaan pertambangan milik keluarga Bakrie. ANTV dan Lativi lebih memilih istilah "lumpur sidoarjo". Sedangkan RCTI, SCTV, Indosiar, Global TV, TPI, Metro TV, Trans TV dan TV7 menggunakan sebutan "lumpur lapindo".  Uniknya, TVRI yang selama 32 tahun dituding sebagai organ Orde Baru malah lebih berani menyebut “lumpur panas lapindo”. Bagi sebuah organisasi media, pemilihan istilah itu tentu tidak sesederhana yang dibayangkan orang awam melainkan mengandung konsekuensi-konsekuensi dan motif-motif tertentu. Sebab organisasi media pada dasarnya adalah tempat bertarungnya berbagai wacana.  News room yang menggunakan istilah ...

Kerumunan cebong dan gerombolan kadrun dalam kolam hiperealitas

 Karikatur: Jabarnews SAYA , awalnya termasuk yang tidak yakin para saudagar China kelompok yang kena imbas daya beli masyarakat yang terus merosot, kendati untuk soal ini Presiden Jokowi membantahnya dengan argumen statistiknya. Karena yang berteriak lantang Fadli Zon, dari partai yang selalu dianggap susah move on, apa saja yang dikemukakan wakil ketua DPR tersebut diangggap hoaks atau noise. Rupanya Pak Presiden tidak percaya ruko-ruko di Mangga Dua yang pernah jaya pada masanya, kini tanpa penghuni dan minim aktivitas. Dan mungkin sebentar lagi menjadi tempat syuting film horor, atau tempat uji nyali dunia lain. Kendati saya pun dulu ke Mangga Dua bukan membeli barang elektronika melainkan berburu film-film yang dibintangi Asia Carrera, Tera Patrick atau Chanel Preston (maaf hanya orang pada masanya yang tahu). Kawasan perniagaan yang melegenda itu menjadi kesepian bukan lantaran dijarah seperti tahun 97/98 melainkan sepi pengunjung dan pembeli. Sungguh tragis. Saya juga merasa...