Skip to main content

Melek Media dan Kiat Mengapresiasi Program Televisi

Reader's Digest Indonesia, Edisi Januari 2003, hal. 163

RIRIN, seorang bocah perempuan berusia lima tahun ditemukan warga Birobuli, Palu Selatan, Sulawesi Tengah, dalam kondisi kritis dan sekujur tubuhnya lebam membiru. Setelah diperiksa dokter, luka lebam itu adalah bekas penganiayaan. Usut punya usut ternyata Ririn selain disiksa orang tua angkatnya juga kerap dipukuli dua kakak laki-lakinya, masing-masing berusia sembilan dan sebelas tahun yang keranjingan tayangan smack down di sebuah stasiun televisi swasta. Setiap ada acara gulat bebas, Ririn kerap menjadi sasaran pukulan dan bantingan kakaknya yang menirukan olah raga keras itu.

Kasus yang ditayangkan SCTV dalam Derap Hukum Februari 2003 ini, semakin menambah daftar akibat negatif tayangan televisi terhadap anak-anak. Berbagai tulisan, kertas kerja, dan penelitian sudah banyak membeberkan dampak negatif “si kotak ajaib” itu. Bahkan, tudingan miring terhadap televisi sudah merebak sejak kelahirannya di Eropa pada era 50-an. Namun demikian, kehadiran kotak “Dewa Janus” itu tak bisa ditolak. Di sisi lain televisi juga adalah medium pembelajaran yang sangat efektif. Karena itu paradigma atau kajian terhadap televisi seharusnya segera diubah. Kajian harus difokuskan pada pengaruh positif dan mengoptimalkan manfaatnya. Sebab, pengaruh negatif televisi otomatis bergaris linier dengan perkembangan zaman dan sulit dihindari.

Kendati bukan media interaktif bagi anak-anak, televisi termasuk medium yang sangat diminati. Hal ini karena televisi bersifat audio visual. Televisi mampu menghadirkan kajadian, peristiwa, atau khayalan yang tak terjangkau panca indera ke dalam ruangan atau kamar anak-anak. Televisi juga mampu mengingat 50 persen dari apa yang mereka lihat dan dengar kendati ditayangkan sekilas.

Anak-anak tak mungkin diisolasi dari tayangan televisi. Di sinilah peran orangtua dan guru sangat penting membantu anak untuk mengapresiasi tayangan-tayangan televisi. Kita tak bisa berharap banyak kepada pengelola televisi. Sebab, mereka lebih berorientasi kepada keuntungan alias profit. Kendati demikian kita juga tak bisa menafikan usaha-usaha yang telah dilakukan pengelola televisi akhir-akhir ini seperti menyensor tayangan dengan aturan yang sangat ketat, memberikan ikon panduan menonton hingga membuat program anak kendati secara finansial tak menarik pemasang iklan.

Karakter Anak-anak

Posisi anak-anak atas tayangan televisi memang sangat lemah. Hal ini berkaitan dengan sifat anak yang di antaranya: pertama, anak sulit membedakan mana yang baik atau buruk serta mana yang pantas ditiru atau diabaikan. Kedua, anak tak memiliki selfcensorship dan belum memiliki batasan nilai. Ketiga, anak nonton bersifat pasif dan tak kritis. Akibatnya, semua yang ditayangkan akan dianggap sebagai kewajaran.

Sifat-sifat itu tentu saja sangat rentan bila tayangan (film, kartun, sinetron, infotainmen, kuis, telenovela atau video klip) yang antisosial seperti kekerasan dan pornografi menerpa mereka. Lebih-lebih kualitas tontonan yang ditayangkan televisi komersial di Indonesia umumnya masih jauh dari memihak kepada anak-anak.

Hasil penelitian dua tahun silam, bahkan menunjukkan acara anak-anak di seluruh televisi swasta hanya 32 jam dari kebiasaan anak-anak Indonesia menonton selama 68 jam dalam sepekan. Ini berarti selama 36 jam anak-anak menonton acara televisi yang pantas ditonton orang dewasa.
Peran Orangtua dan Guru

Tak ada jalan lain, beragam program televisi yang hadir menjumpai kamar anak-anak mendorong orangtua dan guru harus melek media (media literacy). Artinya, orangtua dan guru harus cakap mengoperasikan media; cakap membaca simbol-simbol di belakang makna tayangan; cakap mencari, memilih dan memilah media; serta kalau bisa cakap memproduksi tayangan atau program televisi.

Tetapi untuk sementara orangtua atau guru paling tidak cakap mencari, memilah atau memilih media untuk anak-anak. Di sini orang tua harus jeli karena banyak tayangan televisi yang sebenarnya untuk anak-anak tetapi “saru”.

Dari berbagai literatur dan pendapat pakar ada beberapa tips yang dapat dipraktikkan orang tua untuk mengarahkan anak-anak dalam menonton program televisi yang sehat dan cerdas. Pertama, membangun kesadaran. Ini kunci pertama buat orang tua. Televisi dari sejarahnya hingga kini melahirkan pengaruh baik dan buruk bagi perkembangan psikologis dan perilaku anak.

Kedua, proaktif bertanya. Orang tua harus bertanya kepada anak-anaknya mengenai acara televisi yang paling disukai sebagai cara untuk mengidentifikasi acara-acara favorit anak Ketiga, proaktif melihat. Orang tua tak cukup hanya mengetahui acara favoritnya dari pengakuan si anak. Orangtua paling tidak harus menyempatkan menonton program tersebut sebelum memberikan penilaian dengan kriteria usia, budaya, agama, dan sebagainya.

Keempat, membuat kesepakatan. Dibuat kesepakatan dengan anak tentang acara yang boleh dan tidak layak ditonton, kapan boleh menonton, waktu belajar, waktu tidur, waktu sembahyang, mandi dan sebagainya. Disepakati juga penghargaan dan sanksi bila anak menepati atau melanggar kesepakatan yang dibuat bersama. Reward dan punisment ini penting untuk memberikan tanggung jawab atas kesepakatan yang telah dibuat. Termasuk, juga sanksi bagi orang tua bila nonton televisi ketika anak sedang belajar misalnya.

Kelima, mendampingi menonton. Usahakan untuk dapat menemani anak nonton program televisi yang disukainya. Kehadiran orangtua, penting untuk memberikan jawaban bila suatu waktu anak berkomentar tentang sebuah program atau iklan. Bila anak tak bertanya orangtua berusaha untuk memancing anak diskusi tentang acara yang ditontonnya. Hal ini untuk memancing sikap kritis anak. Keenam, mencari alternatif. Untuk memberikan variasi tak ada salahnya orangtua memberikan tontonan atau bacaan alternatif seperti VCD atau komik

Tak kalah pentingnya adalah peran sekolah dan guru. Selain kegiatan ekstrakulikuler konvensional, guru atau sekolah sebaiknya mulai memprogramkan untuk mengajak anak-anak berkunjung ke stasiun televisi atau ke lokasi syuting program tertentu. Ini penting untuk melihat proses produksi suatu tayangan televisi. Sekaligus, kunjungan itu dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa film atau tayangan di televisi tak selamanya adalah realitas sosial, melainkan hasil rekayasa, permainan editing dan tampilan spesial effect. Pemahaman ini penting agar anak-anak tak memberikan pemahaman yang seragam atas semua tayangan itu sebagai sesuatu yang wajar.

Selain itu, guru juga mencoba memberikan program apresiasasi terhadap sebuah tayangan televisi. Anak-anak diajak untuk meresensi, mengapresiasi, dan menuliskan kesan-kesan tentang film atau iklan dari berbagai sudut pandang. Bahkan, lebih efektif, bila hasil tulisan mereka, kemudian didiskusikan.
Kesimpulan

Saatnya paradigma memandang televisi harus diubah. Tak akan ada artinya terus-menerus mengutuk televisi sebagai biang kerusakan moral dan kepribadian anak-anak. Kini saatnya mengoptimalkan pengaruh positif televisi sebagai medium pembelajaran yang sangkil dan mangkus.

Di sisi lain, televisi selamanya akan tetap ada dan akan terus mempengaruhi fisik, mental, emosi dan perkembangaan jiwa anak. Sebagai konsumen, orangtua, anak, atau guru harus melek media. Minimal menjadi penonton televisi yang kritis. Sebab, pada dasarnya pengelola stasiun televisi akan rugi sendiri bila tayangannya tak ditonton pemirsanya.[]

Jakarta, Maret 2003

Comments

Popular posts from this blog

Bangsa Amnesia: Pers Indonesia Sudah sampai Stupid Dog?

Foto: Istimewa BELAKANGAN ini Indonesia diliputi peristiwa yang memiliki nilai berita serta nilai politik yang sangat tinggi. Ini sebuah rekor, karena sebelumnya Indonesia tidak pernah dibombardir peristiwa yang datang bertubi-tubi.  Kalau pun Indonesia banjir isu biasanya sangat berjarak. Mulai dari peristiwa kenaikan bahan bakar minyak, foto mesum anggota DPR Max Moein, putusan kontroversial pilkada Maluku Utara, blue energy Joko Suprapto, insiden Monas, penangkapan Muchdi Pr dan kontroversi kematian mahasiwa Universitas Nasional di Rumah Sakit Pusat Pertamina, saling tumpang tindih dalam memori bangsa Indonesia pekan-pekan ini.  Isu dan peristiwa ini tentu sangat seksi bagi pers. Media pun meliputnya dari berbagai angle dengan beragam narasumber plus berbagai kepentingan yang menyertainya. Newsroom benar-benar crowded ! Begitu juga pembaca media di Tanah Air.  Isu yang datang bertubi-tubi tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimbang, merenun...

Rudiantara atawa Mpok Minah?

Foto: Instagram KETIKA Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI, Rudiantara memutuskan memblokir sejumlah fitur di beberapa platform media sosial khususnya Facebook, Instagram dan WhatsApp, pikiran saya langsung melayang ke sosok Harmoko, sang menteri penerangan legendaris yang juga berkantor di gedung yang sama. Batin saya langsung berucap. Ehm, Orde Baru kembali! Zaman Orba lebih dikenal sebagai rezim pembredelan. Nah sekarang lebih dikenal sebagai era pemblokiran. Kalau zaman Orba institusi yang dibredel atau dibungkam adalah barang nyata (tangible) seperti koran, tabloid atau majalah. Hasilnya pun sangat nyata: media mati, tidak terbit dan karyawannya kocar-kacir kelayapan menyari pekerjaan baru atau berkompromi dengan rezim menyalin rupa dengan melahirkan media baru. Nah, di zaman internet sekarang yang dikenal era industri 4.0 dan era sosial 5.0, pemblokiran seheroik apapun tidak ada gunanya. Alias tidak efektif. Karena yang diblokir mirip hantu atau mungkin tuyul ataw...

Berahi Ibu Dewan

KACA kamar hotel Room 318 yang tingginya bersaing dengan menara milik sebuah bank nasional yang ikonik di sampingnya, berembun. Padahal dalam kondisi normal kaca itu tembus pandang dan aktivitas di kantor sebelah terlihat jelas bila krei tak ditutup. Hujan yang mengguyur Ibu Kota sejak tadi pagi membuat siapapun membeku. Termasuk Ibu Dewan yang sejak pukul 13.00 hingga 16.45 masih telanjang. Keringat penuh berahi yang tumpah dan membasahi sprei putih serta bed cover sempat disingkirkan dengan kaki kekuatan penuh dan terjuntai di samping ranjang sebelah kanan, terpaksa ditarik kembali dengan kaki yang sama. Entah sudah berapa kali telepon genggam berteriak dan bunyi notifikasi Whatsapp yang masuk hampir berselang dua menit. Ibu Dewan lupa mematikan hapenya. Mencoba meregangkan seluruh tubuhnya sambil melenguh seperti kucing betina habis bersetubuh. Ibu Dewan masih merasakan linu di sebagian tubuhnya. Satu botol air mineral 500 ml diteguknya hampir tandas kemudian kembali membanting tub...